JAKARTA – Gempa bumi di Laut Banda terjadi pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 16:04:46 WIB dengan magnitudo 4,7 berdasarkan data real-time yang telah terkonfirmasi.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) , pusat gempa berada di koordinat 6,74 LS dan 128,24 BT dengan kedalaman mencapai 286 kilometer di bawah permukaan laut.
Rangkaian data Gempa Banda Sea 25 Februari 2026 menunjukkan adanya beberapa pembacaan magnitudo dalam rentang waktu berdekatan, memperlihatkan dinamika aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Data riwayat gempa mencatat peristiwa awal pada pukul 16:07:20 WIB dengan kedalaman 319 kilometer dan parameter magnitudo terbaca 4,93 M berdasarkan tipe pembacaan MLv dan M.
Selang kurang dari dua menit, sistem kembali merekam getaran pada pukul 16:08:56 WIB di koordinat -6,70 LS dan 128,22 BT dengan kedalaman 334 kilometer serta magnitudo 4,70 MLv.
Pada pukul 16:11:03 WIB, aktivitas seismik kembali terdeteksi di sekitar -6,79 LS dan 128,31 BT dengan kedalaman 290 kilometer dan magnitudo 4,93 MLv sebelum akhirnya diperbarui menjadi 4,49 M.
Pembaruan terakhir pada pukul 16:13:58 WIB menunjukkan parameter magnitudo 4,93 MLv dengan kedalaman 286 kilometer yang kemudian dinyatakan terkonfirmasi.
Secara geografis, pusat aktivitas berada di wilayah Laut Banda yang dikenal sebagai salah satu zona subduksi aktif di Indonesia bagian timur dengan karakter gempa berkedalaman menengah hingga dalam.
Gempa dengan kedalaman ratusan kilometer seperti ini umumnya tergolong gempa dalam yang relatif minim potensi kerusakan di permukaan, meskipun tetap dapat dirasakan di sejumlah wilayah tergantung kondisi geologi setempat.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat informasi mengenai dampak kerusakan maupun potensi tsunami, dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan perkembangan situasi terkini.
Data Terkonfirmasi
Tanggal: 25 Februari 2026
Waktu: 16:04:46 WIB
Magnitudo: 4,7
Kedalaman: 286 Km
Lokasi: 6,74 LS – 128,24 BT
Wilayah: Laut Banda
Aktivitas Seismik
Wilayah Laut Banda merupakan bagian dari cincin api Pasifik yang mempertemukan beberapa lempeng tektonik aktif sehingga gempa berkedalaman menengah hingga dalam kerap terjadi secara periodik.
Karakter gempa dalam cenderung memiliki energi yang menyebar luas namun meredam sebelum mencapai permukaan sehingga efek guncangannya tidak sekuat gempa dangkal dengan magnitudo setara.
Masyarakat tetap diimbau untuk memantau informasi resmi dan tidak terpengaruh isu yang belum terverifikasi terkait gempa Banda Sea ini.***