Pemerintah Indonesia membuka lembaran tahun 2026 dengan performa fiskal yang impresif. Pada Januari 2026, penerimaan pajak tercatat meroket hingga Rp116,2 triliun, melonjak tajam 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka Rp88,9 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa capaian ini adalah sinyal kesehatan ekonomi yang nyata.
“Penerimaan pajak di Januari tumbuh sangat solid. Secara neto tumbuh 30,7%, dan bruto pun naik 7%. Ini adalah langkah awal yang sangat bagus,” ungkapnya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta (23/2).
PPN Kuat, Manajemen Restitusi Ketat
Kenaikan fantastis ini bukan tanpa alasan. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan bahwa sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan menjadi “mesin uang” yang menyumbang 66% dari total penerimaan. Selain itu, realisasi PPN dan PPnBM bruto yang mencapai Rp82,6 triliun (naik 7,7%) menjadi tulang punggung utama.
Efisiensi juga menjadi kunci. Pemerintah berhasil menekan nilai restitusi pajak sebesar 23%, turun dari Rp70,2 triliun menjadi Rp54,1 triliun. Penurunan ini mencerminkan manajemen pajak yang lebih hati-hati dan tata kelola yang semakin disiplin.
‘Memburu’ Raksasa Penunggak Pajak
Ketegasan pemerintah terhadap penunggak pajak besar mulai membuahkan hasil nyata. Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengungkapkan bahwa program penagihan terhadap 200 penunggak pajak terbesar telah berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp14,15 triliun.
Meski baru mencapai 23,6% dari total tunggakan Rp60 triliun, Bimo memastikan pihaknya tidak akan mengendurkan tekanan.
“Kami akan lanjutkan langkah aktif: mulai dari surat paksa, blokir rekening, hingga penyanderaan (gijzeling) bagi tunggakan yang sudah inkrah,” tegasnya.
Tantangan di Sektor Bea Cukai
Namun, awan mendung masih membayangi sektor kepabeanan dan cukai yang terkoreksi 14% menjadi Rp22,6 triliun. Ada dua faktor utama yang menjepit sektor ini:
-
Harga Komoditas: Jatuhnya harga minyak kelapa sawit ke level US$916 per metrik ton memicu anjloknya bea keluar hingga 41,6%.
-
Produksi Rokok: Melemahnya produksi rokok di akhir tahun lalu berdampak langsung pada penurunan pesanan pita cukai.
Secara kumulatif, total pendapatan negara di bulan pertama 2026 mencapai Rp172,7 triliun, tumbuh 9,5% secara tahunan. Dengan defisit yang terjaga di level 0,21% terhadap PDB, APBN Indonesia masih berada dalam jalur yang stabil di tengah dinamika pasar global.




