JAKARTA — Pemikiran ekonomi dan pembangunan yang diwariskan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo kembali menjadi sorotan dalam forum refleksi yang digelar The Kertanegara Institute untuk memperingati 109 tahun kelahiran salah satu tokoh penting dalam sejarah pembangunan Indonesia tersebut. Melalui forum bertajuk “Relevansi Pemikiran dalam Arah Pembangunan Indonesia”, para peserta diajak menelaah kembali gagasan-gagasan besar yang pernah menjadi fondasi pembangunan nasional sekaligus menguji relevansinya di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Kegiatan yang berlangsung dalam format private session itu tidak sekadar menjadi ajang mengenang sosok Prof. Soemitro, melainkan juga ruang diskusi strategis untuk membahas bagaimana pemikiran yang ia wariskan masih dapat menjadi rujukan dalam merumuskan arah pembangunan Indonesia masa kini.
Founder dan Chairman The Kertanegara Institute, Raga Awandayu Prakasa V.G., mengatakan forum tersebut diselenggarakan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali tradisi berpikir visioner yang pernah dicontohkan Prof. Soemitro kepada bangsa Indonesia.
Menurutnya, sosok Prof. Soemitro bukan hanya dikenal sebagai ekonom dan negarawan, tetapi juga figur yang memiliki kemampuan melihat jauh melampaui zamannya. Gagasan-gagasan yang ia bangun tidak semata ditujukan untuk menjawab kebutuhan sesaat, melainkan dipersiapkan untuk memberi manfaat bagi generasi-generasi berikutnya.
“Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengenang sekaligus merefleksikan kembali warisan pemikiran Prof. Soemitro, terutama dalam melihat bagaimana gagasan-gagasan besar tersebut tetap relevan bagi generasi muda hari ini,” ujar Raga dalam sambutannya.
Ia menambahkan, keberanian berpikir jangka panjang merupakan salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan intelektual Prof. Soemitro. Di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat, kemampuan merancang masa depan menjadi kualitas yang semakin dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia.
Ekonomi Harus Berdampak bagi Rakyat
Forum refleksi tersebut menghadirkan keynote speech dari Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang mengulas warisan pemikiran sang kakek dari perspektif pembangunan nasional.
Dalam paparannya, Saraswati menegaskan bahwa legasi terbesar Prof. Soemitro tidak berhenti pada konsep-konsep ekonomi yang ia hasilkan selama karier akademik dan pemerintahan. Lebih dari itu, warisan terpentingnya adalah cara berpikir yang menempatkan pembangunan sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Legasi terbesar Prof. Soemitro tidak hanya terletak pada gagasan ekonomi sebagai konstruksi konseptual, tetapi juga pada etos berpikir yang menempatkan pembangunan sebagai kerja kebangsaan yang harus memberi dampak nyata bagi masyarakat,” kata Saraswati.
Ia menjelaskan, dalam pandangan Prof. Soemitro, ekonomi tidak boleh dipersempit hanya menjadi urusan angka-angka pertumbuhan atau indikator makro semata. Keberhasilan pembangunan harus diukur dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama kelompok yang berada di lapisan bawah.
Menurut Saraswati, pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia tengah memasuki fase transformasi ekonomi dan industri yang membutuhkan arah pembangunan yang inklusif. Persaingan global yang semakin ketat serta perubahan geopolitik dunia menuntut lahirnya generasi muda yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru tanpa meninggalkan orientasi pada kepentingan rakyat.
Ia menilai industrialisasi dan pembangunan nasional harus tetap berpijak pada tujuan utama, yakni menciptakan manfaat konkret bagi masyarakat kecil dan memperkuat kemandirian bangsa.
Peran Desa hingga Kemandirian Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Saraswati juga menyoroti pentingnya memperkuat pembangunan dari tingkat lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Menurutnya, berbagai inisiatif yang lahir dari daerah dan desa memiliki potensi besar untuk mendukung penguatan ekonomi nasional apabila dikelola secara optimal dan terintegrasi dengan kebijakan pembangunan yang lebih luas.
Pendekatan pembangunan berbasis lokal tersebut dinilai sejalan dengan semangat yang selama ini diperjuangkan Prof. Soemitro, yakni membangun kekuatan nasional melalui penguatan fondasi ekonomi masyarakat.
Gagasan itu menjadi penting ketika Indonesia berupaya memperkuat daya tahan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi berbagai sektor strategis.
Menjaga Ingatan Kolektif Bangsa
Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Nehemia Lawalata yang diperkenalkan sebagai sosok yang pernah mendampingi Prof. Soemitro dalam berbagai urusan politik dan ekonomi.
Dalam pemaparannya, Nehemia menekankan pentingnya menjaga memori kolektif bangsa terhadap tokoh-tokoh yang telah meletakkan dasar pembangunan nasional. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan membangun masa depan, tetapi juga oleh kemampuannya menghargai dan memahami sejarah.
Ia turut menyoroti perlunya penguatan posisi historis Margono Djojohadikusumo dalam perjalanan sektor perbankan Indonesia. Kontribusi tokoh tersebut, menurutnya, layak mendapat perhatian lebih besar dalam narasi sejarah ekonomi nasional.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak pernah lahir dari satu generasi saja, melainkan merupakan hasil akumulasi pemikiran dan perjuangan lintas zaman.
Perspektif Ekonom Muda
Sudut pandang generasi muda turut mewarnai jalannya forum melalui kehadiran Aldila Septiadi dari Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY).
Kehadiran ekonom muda dalam diskusi tersebut menjadi simbol penting bahwa warisan pemikiran para pendiri bangsa perlu terus didialogkan dengan realitas kekinian. Tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia saat ini tentu berbeda dengan kondisi beberapa dekade lalu, namun nilai-nilai dasar yang melandasi gagasan pembangunan tetap memiliki relevansi.
Diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif The Kertanegara Institute, Yogi Syahputra, berlangsung dalam suasana reflektif dan substantif. Format terbatas yang diterapkan memungkinkan peserta berdialog lebih mendalam mengenai berbagai gagasan yang pernah membentuk arah pembangunan Indonesia.
Pesan Abadi untuk Generasi Penerus
Menutup sambutannya, Raga mengutip salah satu pesan yang diwariskan Prof. Soemitro Djojohadikusumo kepada generasi penerus bangsa.
“Tersenyumlah dalam menghadapi kemalangan. Beranilah menantang bahaya. Tegarlah dalam kekalahan. Dan tetaplah rendah hati dalam kemenangan.”
Pesan tersebut menjadi penutup yang sarat makna dalam forum refleksi 109 tahun Prof. Soemitro. Bagi para peserta, mengenang pemikiran tokoh besar bangsa bukan sekadar melihat ke belakang, melainkan upaya merawat fondasi intelektual yang dapat menjadi penuntun dalam menghadapi tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.
Melalui forum ini, The Kertanegara Institute berharap generasi muda tidak hanya mengenal sosok Prof. Soemitro sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga mampu menjadikan nilai, gagasan, dan semangat berpikirnya sebagai inspirasi dalam merumuskan masa depan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.