Masih terekam jelas di ingatan bagaimana aksi gagah pasukan Polisi Cilik (Pocil) SRMP 28 Kota Pasuruan menghipnotis Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, beberapa waktu lalu. Namun, di balik penampilan yang nyaris sempurna itu, terselip sebuah fakta mengejutkan yang menyentuh hati: seragam biru langit yang mereka kenakan adalah buah karya warga binaan Lapas Narkotika Cipinang.
Di balik jeruji besi yang dingin, tangan-tangan yang sedang menebus kesalahan masa lalu itu ternyata mampu merajut kualitas kelas dunia. Melalui program pembinaan garmen, para narapidana ini menyempurnakan kegagahan anak-anak bangsa yang tampil di panggung kenegaraan.
Kejar Tayang untuk Sang Presiden
Kalapas Narkotika Kelas IIA Cipinang, Syarpani, mengonfirmasi bahwa seluruh atribut yang dikenakan pasukan pocil tersebut diproduksi langsung di dalam lapas. Tantangannya tidak main-main; sebanyak 57 set seragam panggung dan 60 potong baju latihan harus diselesaikan hanya dalam waktu tiga hari.
“Dari proses pemotongan kain hingga finishing, semuanya dikerjakan di dalam lapas oleh warga binaan. Kualitasnya pun dipantau ketat setiap hari melalui Quality Control dari mitra profesional kami,” ujar Syarpani, Jumat (27/2/2026), dilansir dari Detik com.
Seleksi Ketat di “Pabrik” Balik Jeruji
Tidak sembarang narapidana bisa bergabung dalam unit garmen ini. Saat ini, terdapat 120 warga binaan pilihan yang terlibat. Mereka harus memenuhi kriteria ketat: berkelakuan baik, telah menjalani sepertiga masa pidana, dan yang terpenting, memiliki tekad kuat untuk berubah menjadi manusia baru.
Program ini bukan sekadar mengisi waktu luang. Syarpani menegaskan bahwa kualitas produk garmen Lapas Cipinang kini sudah mampu bersaing di pasar nasional.
“Produk kami sudah sering tampil di ajang publik seperti IPPA Fest 2025. Bahkan, para peserta program garmen akan menerima sertifikat keahlian setelah lulus ujian,” tambahnya.
Menjahit Harapan Setelah Bebas
Selain garmen, Lapas Narkotika Cipinang juga pamer gigi dalam teknologi CNC Laser untuk produk kerajinan tangan. Namun, misi utama di balik semua ini jauh lebih besar daripada sekadar profit bisnis.
Program pembinaan ini diharapkan menjadi bekal nyata agar saat bebas nanti, mereka tidak lagi kembali ke jalan yang salah karena kesulitan ekonomi. Dengan keterampilan menjahit profesional, para mantan narapidana ini ditargetkan mampu bersaing dengan merek-merek besar, sekaligus menekan angka pengangguran.
Kisah seragam biru langit ini menjadi bukti nyata bahwa dari tempat yang paling terisolasi sekalipun, sebuah perubahan besar dan karya yang membanggakan bisa lahir untuk mengharumkan nama bangsa.