Ketenangan warga Jepang utara terusik oleh guncangan hebat yang berpusat di lepas pantai Prefektur Iwate. Setidaknya enam orang dilaporkan terluka hingga Selasa (21/4/2026) pagi, dua di antaranya mengalami luka serius setelah gempa berkekuatan M 7,7 menghantam perairan Pasifik pada Senin malam.
Guncangan tersebut begitu masif hingga sanggup membuat gedung-gedung pencakar langit di Tokyo—yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa—bergoyang hebat.
Ancaman Gempa “Super Besar” M 8,0
Meski gelombang tsunami yang menerjang Pelabuhan Kuji hanya setinggi 80 cm dan peringatan tsunami tiga meter telah dicabut, Badan Meteorologi Jepang (JMA) justru mengeluarkan peringatan yang lebih mengerikan.
JMA menyatakan bahwa risiko terjadinya gempa super besar dengan Magnitudo 8,0 atau lebih kini meningkat drastis dibandingkan kondisi normal. Peringatan ini memicu kekhawatiran akan terulangnya tragedi memilukan tahun 2011 silam.
“Kemungkinan terjadinya gempa bumi besar baru saat ini relatif lebih tinggi daripada masa normal,” tulis pernyataan resmi JMA.
Evakuasi Masif di Pesisir Utara
Merespons ancaman ini, pemerintah daerah setempat langsung mengambil langkah preventif dengan mengeluarkan instruksi evakuasi kepada lebih dari 182.000 penduduk di wilayah terdampak. Meskipun statusnya tidak wajib, warga diimbau untuk tetap waspada dan mencari tempat yang lebih tinggi jika guncangan susulan kembali terjadi.
Hingga saat ini, Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana (FDMA) mengonfirmasi tidak ada laporan kebakaran hebat maupun kerusakan pada fasilitas nuklir dan objek vital lainnya.
Sebagai negara yang berdiri di atas empat lempeng tektonik utama, Jepang memang “langganan” diguncang sekitar 1.500 gempa setiap tahunnya. Namun, memori akan gempa bawah laut M 9,0 tahun 2011 yang menewaskan 18.500 jiwa masih membekas dalam di ingatan kolektif warga.
Kini, seluruh mata tertuju pada pergerakan lempeng di lepas pantai Iwate. Di tengah kesiapsiagaan teknologi deteksi dini yang canggih, warga Jepang hanya bisa berharap bahwa prediksi “Gempa Super Besar” tersebut tidak menjadi kenyataan.