Selasa (21/4/2026) menjadi hari yang sibuk bagi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) SNPMB atau UTBK. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof. Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memetakan 2.940 data anomali sejak awal. Hasilnya? Berbagai modus kecurangan mulai dari yang canggih hingga yang konyol berhasil diringkus sebelum pukul 09.00 WIB.
1. Operasi Medis di Undip: Alat Penyadap Masuk Telinga
Kasus paling ekstrem terjadi di Universitas Diponegoro (Undip). Seorang peserta nekat menyembunyikan alat bantu dengar mini jauh ke dalam liang telinganya untuk menerima jawaban. Saking dalamnya, panitia terpaksa membawa peserta tersebut ke dokter spesialis THT karena alat tersebut tidak bisa dikeluarkan secara manual dan berisiko merusak pendengaran.
2. Joki Penyamar di UPN Veteran Jatim
Kreativitas joki di Surabaya ini patut diacungi jempol, namun gagal total di hadapan teknologi. Sang joki mencoba menyamar dengan hanya mengubah posisi jilbab pada foto pendaftaran agar berbeda dari tahun lalu. Sayangnya, sistem Face Recognition panitia jauh lebih jeli. “Hanya jilbabnya yang geser, wajahnya tetap sama,” sindir Prof. Eduart.
3. Fenomena Joki “Dua Identitas” di Unesa, Unsulbar, dan UM
Modus joki profesional yang menggunakan satu wajah untuk banyak nama kembali marak. Di Unesa (Surabaya), Unsulbar (Majene), dan Universitas Negeri Malang (UM), panitia menemukan pola serupa: pelaku yang pernah ikut ujian tahun lalu kembali muncul dengan identitas baru. Beruntung, sistem pelacakan data anomali panitia sudah mencium kejanggalan ini sebelum ujian berakhir.
4. Terendus Sindikat Terorganisir di Sulawesi Barat
Unsulbar mencatat temuan paling serius dengan indikasi adanya sindikat kecurangan. Kelompok ini diduga aktif bergerilya mencari “mangsa” dengan mengiming-imingi calon peserta agar menggunakan jasa mereka dengan jaminan kelulusan. Panitia kini tengah mendalami jaringan ini untuk diproses lebih lanjut secara hukum.
Prof. Eduart menegaskan bahwa sistem pengamanan UTBK 2026 kini jauh lebih berlapis. “Melalui teknologi yang kami miliki, segala bentuk modifikasi foto maupun kecurangan alat elektronik akan terlacak,” tegasnya di Pusat UTBK UNJ, Jakarta Timur.
Bagi para peserta yang masih berencana melakukan kecurangan, kisah peserta di Undip yang berakhir di ruang dokter THT harusnya menjadi peringatan keras: Jalur curang hanya akan berujung pada kegagalan dan masalah medis yang nyata.