JAKARTA – Pertempuran antara militer Pakistan dan Taliban Afghanistan memasuki hari ketiga pada Sabtu (28/2/2026), setelah bentrokan semalaman di sepanjang perbatasan. Komunitas internasional menyampaikan kekhawatiran mendalam atas eskalasi tersebut dan menyerukan pembicaraan segera.
Serangan Pakistan pada Jumat menghantam sejumlah instalasi dan pos militer Taliban di Kabul dan Kandahar. Pejabat Islamabad menyebut aksi itu sebagai respons atas serangan lintas batas, sementara Kabul mengecamnya sebagai pelanggaran kedaulatan. Taliban menolak tuduhan Pakistan bahwa mereka melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP).
Dilansir dari Reuters, Sabtu, Afghanistan menegaskan tetap terbuka untuk dialog, tetapi memperingatkan bahwa konflik lebih luas akan membawa konsekuensi serius. Pertempuran ini meningkatkan risiko ketegangan berkepanjangan di sepanjang perbatasan sepanjang 2.600 km.
Upaya diplomatik dilakukan, termasuk komunikasi antara Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi dan Pangeran Faisal bin Farhan dari Arab Saudi. Uni Eropa, PBB, Rusia, dan China menyerukan penghentian bentrokan, sementara Amerika Serikat menegaskan dukungan atas hak Pakistan membela diri. Seorang pejabat AS menambahkan bahwa Washington tidak memandang Islamabad sebagai pihak agresor, seraya berharap situasi tidak semakin memburuk.
Pertukaran tembakan berlanjut sepanjang malam. Sumber keamanan Pakistan menyebut operasi “Ghazab Lil Haq” berhasil menghancurkan sejumlah pos Taliban, meski klaim itu belum dapat diverifikasi. Kedua pihak melaporkan kerugian besar dengan angka korban yang saling bertentangan.
Juru bicara Taliban Hamdullah Fitrat menyatakan 19 warga sipil tewas dan 26 terluka di Khost dan Paktika. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menegaskan, “cangkir kesabaran kami telah meluap” dan menyebut pertempuran sebagai “perang terbuka”.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Taliban Sirajuddin Haqqani memperingatkan konflik ini “akan sangat mahal”. Ia menekankan bahwa Taliban telah mengalahkan “dunia, bukan melalui teknologi, melainkan melalui persatuan dan solidaritas”, serta melalui “kesabaran dan ketekunan yang besar”.
Pakistan Lebih Unggul
Secara militer, Pakistan memiliki keunggulan dengan tentara reguler berjumlah ratusan ribu dan angkatan udara modern. Taliban, meski tidak memiliki angkatan udara konvensional, tetap mengandalkan pengalaman panjang dalam pertempuran darat setelah dua dekade melawan pasukan pimpinan AS sebelum kembali berkuasa pada 2021.