JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menggelar dialog strategis bersama para mantan presiden, wakil presiden, dan eks menteri luar negeri guna membahas respons Indonesia terhadap eskalasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas.
Langkah Presiden Prabowo ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang berpotensi menyeret banyak negara dalam konflik berkepanjangan dengan dampak luas terhadap stabilitas global dan perekonomian dunia.
Diskusi tertutup yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa malam (3/3), menjadi forum pertukaran gagasan lintas generasi kepemimpinan untuk memperkuat posisi diplomasi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik internasional.
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Presiden memaparkan secara komprehensif perkembangan situasi Timur Tengah yang dinilai berisiko berkembang menjadi konflik jangka panjang dengan implikasi multidimensi.
Menurut Hassan, kondisi tersebut tidak hanya menjadi tantangan bagi Indonesia, melainkan juga menciptakan dilema strategis bagi banyak negara yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik di kawasan tersebut.
Presiden disebut sengaja membuka ruang partisipatif agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian sekaligus adaptif terhadap perubahan konstelasi global.
“Masing-masing kita mencoba memberikan kontribusi pemikiran. Dan Presiden sangat terbuka untuk menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta,” jelas Hassan di kompleks Istana Kepresidenan.
Dalam forum tersebut, isu keamanan regional hingga stabilitas ekonomi global menjadi sorotan utama karena konflik Timur Tengah dinilai memiliki efek domino terhadap rantai pasok energi dunia.
Hassan menekankan bahwa eskalasi militer berpotensi mengganggu distribusi minyak dan gas bumi yang selama ini menjadi tulang punggung energi global, sehingga berdampak langsung pada harga komoditas dan inflasi internasional.
“Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi biduk kita, bukan di antara dua karang, namun beberapa karang, dan itu tidak mudah,” imbuh dia.
Sebagaimana diketahui, ketegangan terbaru dipicu serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Sabtu pekan lalu yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Perkembangan tersebut memperbesar risiko instabilitas kawasan yang sebelumnya telah rentan akibat rivalitas geopolitik dan kepentingan strategis negara-negara besar.
Pemerintah Indonesia menyatakan penyesalan atas gagalnya jalur perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada konfrontasi militer terbuka.
Indonesia juga menyerukan semua pihak agar menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi sebagai solusi penyelesaian konflik.
Lebih jauh, Indonesia menyatakan kesiapan untuk berperan aktif memfasilitasi komunikasi antar pihak yang bertikai guna mengembalikan situasi keamanan regional yang kondusif dan stabil.
Langkah konsultatif Presiden Prabowo bersama para tokoh senior dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memilih jalur diplomasi aktif, menjaga keseimbangan kepentingan nasional, serta memperkuat peran sebagai negara penyeimbang dalam percaturan geopolitik global.***