JAKARTA — Nama Mojtaba Khameini tiba-tiba mencuat ke permukaan panggung politik dunia setelah kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026). Selama berpuluh-puluh tahun beroperasi di balik layar kekuasaan Iran, sosok ini kini resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Berikut lima fakta penting yang perlu diketahui tentang figur paling berpengaruh, tetapi jarang disorot di media:
1. Nama Lengkap dan Asal-Usulnya
Nama lengkap tokoh ini adalah Mojtaba Hosseini Khamenei, bukan Khomeini. Penyebutan “Mojtaba Khomeini” yang beredar luas di berbagai media kerap menimbulkan kerancuan, sebab nama Khameini lebih dikenal merujuk pada Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Adapun putra sulung Ruhollah Khomeini, yakni Mostafa Khomeini, telah wafat pada 1977, sebelum Revolusi Islam bergulir.
Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang kedua, yang berkuasa sejak 1989 hingga wafatnya pada 2026.
2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Militer
Mojtaba menempuh pendidikan keagamaan di hawza (seminari) Qom, salah satu pusat keilmuan Islam Syiah paling bergengsi di Iran. Dari jalur pendidikan tersebut, ia meraih gelar klerus Hojjatoleslam, setingkat di bawah Ayatollah penuh, yang menandai posisinya sebagai ulama kelas menengah dalam hierarki keagamaan Syiah.
Di luar jalur akademis keagamaan, Mojtaba juga pernah terjun langsung ke medan perang. Ia ikut bertempur sebagai relawan muda dalam Perang Iran-Irak pada periode 1987 hingga 1988. Pengalaman militer ini kelak menjadi salah satu fondasi hubungan eratnya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
3. Kekuatan Nyata di Balik Layar
Meski tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilihan umum atau memegang jabatan publik secara resmi, Mojtaba selama berpuluh-puluh tahun dianggap sebagai pemegang kekuatan sesungguhnya di Kantor Pemimpin Tertinggi, yang dikenal sebagai Bait-e Rahbari. Para analis Barat menjulukinya “the power behind the robes” kekuatan di balik jubah merujuk pada pengaruhnya yang luar biasa tanpa jabatan formal.
Dalam praktiknya, Mojtaba berfungsi sebagai penjaga gerbang dan perantara kekuasaan yang mengatur siapa saja yang boleh bertemu dengan ayahnya. Ia juga memiliki jalinan yang sangat erat dengan IRGC, Basij, serta jaringan intelijen dan konglomerat bisnis besar yang berada di bawah kendali rezim.
4. Kontroversi Suksesi Dinasti
Kemunculan nama Mojtaba sebagai calon penerus ayahnya menuai kritik tajam dari kalangan oposisi dan analis Barat. Mereka menilai pola suksesi semacam ini bertentangan dengan semangat awal Revolusi Islam 1979 yang secara tegas menolak sistem monarki dan pewarisan kekuasaan berdasarkan garis keturunan.
Kendati demikian, pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel, Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Proses pemilihan ini berlangsung di tengah tekanan besar dari IRGC dan situasi perang yang masih berkecamuk, menurut sejumlah laporan dari Reuters, Iran International, The New York Times, dan Associated Press.
5. Tragedi Pribadi
Di balik naiknya Mojtaba ke puncak kekuasaan, terdapat luka pribadi yang mendalam. Istri dan salah satu anaknya dilaporkan turut tewas dalam serangan yang sama yang merenggut nyawa sang ayah.
Mojtaba kini berdiri di persimpangan antara warisan revolusi yang dibangun kakeknya, nama Khomeini yang melekat di publik, dan kenyataan bahwa ia adalah penerus langsung kekuasaan ayahnya.