SIDOARJO — Menteri Agama Nasaruddin Umar melakukan kunjungan ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur dalam rangka safari pesantren sekaligus menyosialisasikan rencana pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia, Jumat (6/3/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk memperkuat pembinaan dan pengembangan lembaga pendidikan keagamaan Islam agar mampu menjangkau lebih banyak pesantren di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam agenda safari itu, Menteri Agama juga menyerahkan bantuan dana operasional sebesar Rp100 juta kepada tiga pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur sebagai bentuk dukungan konkret terhadap keberlangsungan pendidikan dan kegiatan pesantren.
Penguatan Pesantren Lewat Pembentukan Ditjen
Dalam pertemuan bersama pengasuh dan santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Menag menjelaskan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren ditujukan untuk memperluas cakupan pembinaan serta meningkatkan pemerataan dukungan pemerintah terhadap pesantren di seluruh Indonesia.
“Sesungguhnya kita ingin ke depan dengan adanya Ditjen Pondok Pesantren, pembinaan pondok itu akan lebih banyak dan lebih merata,” kata Menag di Sidogiri, Jumat (6/3/2025).
Program ini diharapkan menjadi fondasi kebijakan baru yang lebih fokus terhadap kebutuhan pesantren, baik dalam aspek pendidikan, manajemen kelembagaan, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas pesantren.
Bantuan Operasional untuk Tiga Pesantren
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama menyalurkan bantuan operasional kepada tiga pesantren yang menjadi lokasi kunjungan, yakni Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, Pondok Pesantren Sidogiri, serta Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat.
Masing-masing lembaga pendidikan tersebut menerima dana operasional sebesar Rp100 juta yang diharapkan dapat menunjang kegiatan pendidikan, pengembangan santri, serta berbagai program sosial di lingkungan pesantren.
Safari Pesantren Jadi Ruang Dialog
Direktur Pondok Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menilai safari pesantren memiliki peran strategis sebagai jembatan komunikasi langsung antara pemerintah dan komunitas pesantren.
“Safari pesantren sangat penting karena menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog langsung antara pemerintah dan pesantren. Melalui kunjungan ini, Menteri Agama dapat melihat secara langsung dinamika, kebutuhan, serta kontribusi nyata pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Basnang.
Menurutnya, interaksi langsung di lingkungan pesantren memberikan gambaran nyata mengenai tantangan serta potensi yang dimiliki lembaga pendidikan Islam tersebut sehingga pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Pendekatan dialogis ini juga diharapkan mampu memperkuat posisi pesantren sebagai pusat pembinaan umat sekaligus motor penggerak pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Penguatan Moral dan Pengakuan Negara
Basnang menambahkan bahwa kehadiran Menteri Agama di lingkungan pesantren membawa dampak moral yang besar bagi para pengelola dan santri.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi strategis pesantren dalam membangun pendidikan keagamaan, pembentukan karakter generasi muda, serta penguatan kehidupan sosial masyarakat.
“Bagi pesantren, kunjungan ini menjadi momentum untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, mempererat kemitraan dengan pemerintah, serta memperkuat kepercayaan diri pesantren bahwa kiprah mereka dalam pendidikan keagamaan, pembinaan karakter, dan pemberdayaan masyarakat mendapat perhatian serius dari negara,” katanya.
Harapan Kebijakan Afirmatif untuk Pesantren
Basnang juga berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan afirmatif bagi pesantren dalam berbagai sektor strategis, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, hingga pengembangan kemandirian ekonomi berbasis pesantren.
Menurutnya, dukungan kebijakan yang konsisten akan membuat pesantren semakin optimal menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat.
“Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan berpihak pada ekosistem pesantren, pesantren akan semakin optimal menjalankan fungsinya sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Basnang.
Safari pesantren yang dilakukan Menteri Agama ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memperkuat kemitraan dengan pesantren serta memastikan program dan kebijakan pemerintah benar-benar menjangkau lembaga pendidikan keagamaan hingga tingkat akar rumput.***