WASHINGTON DC – Lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui USD 100 per barel menjadi sorotan di tengah konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Presiden AS Donald Trump menilai kenaikan harga minyak itu hanya bersifat sementara dan merupakan konsekuensi kecil dari operasi militer yang tengah berlangsung.
Mengutip Bloomberg dan Al Arabiya, Senin (9/3/2026), Trump menyebut pergerakan harga minyak saat ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi AS, dan dunia, dan keamanan dan perdamaian,” tulis Trump dalam pernyataan melalui Truth Social.
“Hanya orang bodoh yang akan berpikir secara berbeda,” imbuhnya.
Pernyataan Trump itu muncul setelah harga minyak dunia melonjak tajam menyusul serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan mengirimkan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan serta fasilitas militer AS di kawasan Asia Barat, termasuk di Qatar, Irak, Bahrain, dan Arab Saudi. Serangan balasan juga diarahkan ke wilayah Israel.
Eskalasi konflik yang terus berlanjut berdampak langsung pada jalur distribusi energi global. Kapal-kapal pengangkut minyak dilaporkan enggan melintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Akibatnya, sejumlah negara produsen minyak besar terpaksa memangkas produksi mereka. Kuwait dan Uni Emirat Arab mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan mereka cepat penuh imbas penutupan Selat Hormuz. Irak pun dilaporkan telah mulai menghentikan produksinya sejak pekan lalu.