Suasana Pasar Tanah Abang Blok A mendadak riuh pada Senin siang (9/3/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan kunjungan mendadak (sidak) ke pusat grosir terbesar di Asia Tenggara ini.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan upaya Purbaya membuktikan narasi “ekonomi yang sedang baik-baik saja” di tengah gempuran kritik para ekonom soal pelemahan daya beli.
Riuh Teriakan “THR” dan Keluhan Pedagang
Baru saja tiba pukul 13.00 WIB, Purbaya langsung dikepung antusiasme pedagang dan pengunjung. Namun, sambutan hangat itu segera berubah menjadi curhatan pilu. Di sela-sela dialog, terdengar teriakan lantang, “Pak, minta THR Pak!”.
Purbaya sempat mencoba baju koko dan berbincang soal omzet, namun keluhan pedagang tak bisa dibendung. Seorang pedagang kerudung secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaannya.
“Biasanya minggu-minggu ini sudah ramai. Sepi, Pak… kalah sama online,” keluhnya. Pedagang lain bahkan mendesak sang Bendahara Negara dengan kalimat tegas, “Pak Purbaya, perbaiki ekonomi Indonesia!”
Data vs Fakta di Lapangan
Menanggapi kritik ekonom yang menyebut Indonesia tengah terjerat resesi, Purbaya justru memberikan pembelaan. Ia mengklaim apa yang dilihatnya di Tanah Abang membuktikan bahwa daya beli masyarakat masih tangguh.
“Ternyata betul, daya beli masih ada. Orang masih belanja, pasar juga masih ramai,” tegas Purbaya di hadapan awak media.
Ia mengaku ingin memverifikasi data ekonomi yang “bagus” di mejanya dengan kenyataan langsung. Purbaya berpesan kepada para pedagang untuk tetap optimistis.
“Saya kan baru 5 bulan menjabat. Akhir tahun nanti ekonomi akan tumbuh. Dukung saya, biar yang lain (ekonom) menjelek-jelekkan tidak apa-apa, kita dorong ekonomi di bawah agar makin maju,” tambahnya.
Tantangan Nyata di Era Digital
Terlepas dari optimisme sang Menteri, jeritan pedagang di Blok A mencerminkan tantangan besar yang belum sepenuhnya terpotret dalam angka makro ekonomi: pergeseran perilaku konsumen menuju belanja daring dan turunnya jumlah pemborong yang menjadi urat nadi pasar grosir.
Sidak ini pun menjadi potret kontras antara keyakinan pemerintah dengan realitas pahit yang dirasakan pelaku usaha di garda terdepan ekonomi nasional.