BEIRUT, LEBANON – Sebanyak 12 tenaga medis tewas setelah pesawat tempur Israel menggempur sebuah pusat kesehatan masyarakat di Bourj Qalawayah, Lebanon selatan, Jumat (waktu setempat).
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa fasilitas yang dikelola Otoritas Kesehatan Islam itu hancur dalam serangan udara tersebut, menambah daftar panjang target sipil yang menjadi sasaran di tengah eskalasi perang dengan Hizbullah.
Korban jiwa menurut laporan AFP terdiri dari para dokter, paramedis, dan perawat yang sedang bertugas ketika bom menghantam fasilitas kesehatan primer tersebut. Badan Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap sejumlah orang yang dinyatakan hilang, memicu kekhawatiran bahwa angka kematian berpotensi terus bertambah.
Kementerian kesehatan setempat dengan tegas mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional yang seharusnya melindungi tenaga medis dan fasilitas kesehatan di zona konflik.
103 Anak Tewas dalam Sebulan Serangan
Ombak darah terus melanda Lebanon sejak konflik memanas pada awal Maret. Data terbaru Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon yang dirilis Jumat mencatat total korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 773 orang, dengan 1.933 lainnya menderita luka-luka. Angka tersebut termasuk 103 anak-anak yang kehilangan nyawa, melonjak dari catatan 98 anak pada hari sebelumnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan setidaknya 25 serangan terpisah terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon sejak permusuhan dimulai. Agresi ini telah merenggut nyawa 16 petugas medis dan melukai 29 lainnya, menjadikan sektor kesehatan sebagai salah satu korban paling brutal dalam perang yang tak simetris ini.
Agnès Dhur, kepala delegasi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Lebanon, mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan kekerasan terhadap layanan medis. “Fasilitas dan personel medis adalah penyelamat bagi warga sipil. Rumah sakit dan layanan medis harus tetap menjadi tempat perlindungan dan tidak boleh berada di bawah ancaman,” tegasnya dalam pernyataan resmi.
Lebanon Tepi Jurang Kemanusiaan
Di luar dampak langsung serangan, krisis kemanusiaan skala besar mengancam negara Cedar tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan lebih dari 850.000 jiwa telah terusir dari rumah mereka sejak 2 Maret, ketika Hizbullah melancarkan roket ke Israel sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam operasi gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Israel membalas dengan operasi darat dan udara masif di seluruh wilayah Lebanon.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang tengah berada di Beirut pada Jumat mengumumkan paket bantuan darurat senilai 325 juta dolar AS untuk meringankan penderitaan warga Lebanon. “Selama bertahun-tahun, Lebanon telah membuka pintunya bagi mereka yang mengungsi dari konflik. Kini, dunia harus menunjukkan dukungan terkuat kita kepada rakyat Lebanon di saat bahaya besar dan kebutuhan mendesak ini,” ujar Guterres.
Namun bantuan tersebut seolah hanya setetes air di tengah gurun. WHO melaporkan bahwa 49 pusat layanan kesehatan primer dan lima rumah sakit terpaksa menutup pintu setelah menerima perintah evakuasi dari militer Israel. Akses terhadap layanan medis vital kini nyaris putus di tengah melonjaknya kebutuhan pengungsi.
Sementara itu, organisasi-organisasi kemanusiaan di lapangan membunyikan alarm bahwa tempat-tempat penampungan telah melampaui kapasitas. Sekolah-sekolah yang dialihfungsikan menjadi hunian sementara harus menampung hingga 15 orang dalam satu ruang kelas. Mereka yang tak kebagian tempat terpaksa menghabiskan malam di dalam mobil atau bahkan di trotoar jalan.