JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya yang tewas akibat serangan Israel, bersumpah akan melanjutkan serangan terhadap negara-negara Teluk Arab. Ia juga menegaskan penggunaan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Minggu (15/3/2026), pernyataan yang dibacakan televisi pemerintah itu menandai kelanjutan strategi mendiang ayahnya. Khamenei berjanji membalas dendam atas korban perang, termasuk serangan terhadap sebuah sekolah yang menewaskan lebih dari 165 orang. Ia memperingatkan kemungkinan “membuka front lain” jika konflik berlanjut, sembari menyerukan negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan AS.
Konflik yang terus meningkat telah mengguncang pasokan energi global. Harga minyak Brent naik 9 persen menjadi lebih dari $100 per barel, bahkan sempat menyentuh $120. Sementara itu, Hizbullah meluncurkan sekitar 200 roket ke Israel utara, memicu serangan balasan Israel ke Teheran dan Lebanon.
Militer AS mengklaim telah menghantam lebih dari 6.000 target sejak operasi dimulai, termasuk kapal penebar ranjau. Serangan udara Israel juga mengenai sebuah gedung di pusat Beirut, dekat kantor PBB dan kedutaan besar asing.
PBB melaporkan lebih dari 3,2 juta warga Iran dan 800.000 warga Lebanon telah mengungsi akibat perang. Sekretaris Jenderal António Guterres menyerukan de-eskalasi, menekankan bahwa “pihak yang paling rentanlah yang pertama dan paling parah menderita.”