WASHINGTON, AS – Iran mengajukan proposal damai baru yang menawarkan penghentian penguasaan atas Selat Hormuz tanpa menyentuh program nuklirnya, demikian laporan Associated Press (AP), Senin (27 April 2026). Proposal tersebut juga menuntut Amerika Serikat (AS) mencabut blokade terhadap Teheran sebagai bagian dari kesepakatan awal.
Menurut dua pejabat regional yang mengetahui isi proposal dan berbicara secara anonim, dokumen itu disampaikan kepada AS melalui Pakistan. Axios, yang pertama kali memberitakan proposal ini, menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menjelaskan kepada mediator Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar selama akhir pekan bahwa kepemimpinan Iran belum mencapai konsensus internal mengenai cara merespons tuntutan Washington.
Presiden AS Donald Trump tampaknya tidak akan mudah menerima tawaran tersebut. Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan menyeluruh harus mencakup penghentian program nuklir Iran sekaligus pembukaan Selat Hormuz secara permanen sebagai bagian dari gencatan senjata yang berkelanjutan.
“Kita memegang semua kartu. Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kita, atau mereka bisa menghubungi kita,” tegas Trump dalam wawancara dengan Fox News Channel, Minggu (26 April 2026).
Pada Sabtu (25 April), Trump membatalkan rencana kunjungan dua utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad.
“Tidak ada gunanya duduk-duduk dan membicarakan hal yang tidak penting,” kata Trump menjelaskan pembatalan tersebut.
Diplomasi Regional Masih Berjalan Meski Rapuh
Meski kunjungan ke Pakistan batal, upaya mediasi tetap berlangsung. Araghchi tiba di Saint Petersburg, Rusia, Senin pagi untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Kunjungan ini menyusul rangkaian diplomasi intensif Araghchi ke Oman dan Islamabad beberapa hari sebelumnya.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan melalui Telegram bahwa Araghchi akan membahas hubungan bilateral dan isu regional, termasuk konflik dengan AS. Media pemerintah Iran melaporkan Araghchi menekankan bahwa konsultasi di Pakistan telah meninjau “kondisi di mana pembicaraan Iran-AS dapat dilanjutkan”, seraya menegaskan Teheran akan terus memperjuangkan hak dan kepentingan nasionalnya.
Sebagai negara pesisir Selat Hormuz bersama Oman, Iran dan Oman sepakat melanjutkan konsultasi tingkat ahli guna memastikan transit yang aman di jalur air strategis tersebut.
Kantor berita Fars melaporkan Iran telah mengirimkan “pesan tertulis” kepada AS melalui mediator Pakistan yang memuat garis merah Teheran, termasuk isu nuklir dan Selat Hormuz. Sementara Axios mengutip seorang pejabat AS dan dua sumber lain bahwa proposal Iran bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip laporan Axios tanpa membantahnya.
Dampak Ekonomi Global Masih Terasa
Gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran sejauh ini bertahan, namun gejolak ekonominya masih dirasakan dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memutus pasokan minyak, gas, dan pupuk dunia, memicu lonjakan harga komoditas serta meningkatkan kekhawatiran kerawanan pangan di negara-negara berkembang.
Blokade AS terhadap selat tersebut masih berlaku, sehingga alur perdagangan global belum pulih sepenuhnya. Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik akibat harga bahan bakar yang melonjak menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Meski demikian, harapan untuk putaran pembicaraan baru masih ada. Trump dijadwalkan menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih, Senin siang, bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri untuk membahas situasi Iran.
Sementara itu, Araghchi terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak regional guna menjaga momentum diplomasi. Namun, dengan sikap tegas Trump yang menyatakan Washington “memegang semua kartu”, jalan menuju kesepakatan komprehensif masih panjang dan penuh tantangan.
Perkembangan terbaru ini terus dipantau dunia internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan arteri utama pasokan energi global yang menentukan stabilitas ekonomi dunia.


