Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Garuda TV berlangsung meriah dan megah di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Mengusung tema besar “Mahayuga”, momen ini menjadi ajang selebrasi tiga tahun perjalanan Garuda TV sebagai jaringan televisi nasional yang menghadirkan sajian informasi aktual dan hiburan berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Dalam sambutannya, Founder Garuda TV yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengenang kembali masa-masa awal berdirinya stasiun televisi tersebut. Siapa sangka, media yang kini telah bersiaran nasional di lebih dari 250 kota di seluruh Indonesia itu bermula dari sebuah gudang sederhana.
“Kami sebenarnya memulai di tahun 2017 dari satu gudang kecil di Banten. Kemudian berkembang, dan alhamdulillah pada 2023—tepat tiga tahun lalu—kami meluncurkan siaran secara nasional di seluruh Indonesia,” kenang Sudaryono.
Filosofi “Usaha Primer” di Balik Lahirnya Garuda TV
Sudaryono membagikan pemikirannya mengenai alasan di balik keberanian membangun Garuda TV. Ia membedakan antara “upaya sekunder” (sekadar memberi saran kepada orang lain yang belum tentu dijalankan) dan “upaya primer” (tindakan nyata yang dikerjakan dan dikuasai sendiri).
Daripada sekadar menyampaikan masukan atau keluhan yang belum tentu direalisasikan oleh pihak lain, ia memilih mengambil langkah nyata.
“Daripada hanya memberikan saran dan akhirnya gusar karena tidak dikerjakan, kami memilih melakukan upaya primer: membangun salurannya, mengurus perizinan, mengumpulkan modal, membentuk tim, hingga akhirnya kini Garuda TV bisa dinikmati di ratusan kota,” ungkapnya.

Bebas Konflik Kepentingan dan Independensi Berita
Memasuki usia ke-3, Sudaryono menegaskan bahwa dirinya telah melepaskan peran operasional di Garuda TV. Langkah ini diambil untuk menjaga profesionalisme serta menghindari benturan kepentingan (conflict of interest), terutama terkait posisinya sebagai pejabat publik.
Ia menggarisbawahi bahwa Garuda TV harus tetap independen dan berpegang pada fakta aktual, bukan sekadar menjadi media penyambung lidah kekuasaan.
“Apakah Garuda TV pro-pemerintah karena saya pendirinya? Belum tentu. Pro atau tidaknya bergantung pada keaktualan informasi. Kami tidak mengarang atau memfabrikasi berita yang keliru,” tegas Sudaryono.
Ia juga berpesan kepada jajaran direksi untuk tidak lagi melibatkan dirinya dalam urusan bisnis, pencarian sponsor, maupun liputan berita. Bahkan, ia memastikan tidak boleh ada insan Garuda TV yang terlibat dalam proyek dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Menutup sambutannya, Sudaryono berharap Garuda TV dapat terus menjadi sarana konfirmasi berita yang tepercaya (third-party validator) di tengah derasnya arus informasi. Ia mengajak seluruh tim Garuda TV untuk terus bekerja dengan memegang teguh nilai kepemimpinan yang diajarkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Dengan ajaran Pak Prabowo yang saya dapatkan, kita bekerja dan berkarya di tempat masing-masing dengan satu prinsip: love your people and use your common sense (cintai rakyatmu dan gunakan akal sehatmu),” pungkasnya.


