Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian mengkhawatirkan. Laporan terbaru mencatat total luas area yang terdampak amukan si jago merah telah membengkak hingga menyentuh angka 520 hektare.
Eskalasi kebakaran yang kian meluas ini menyedot perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turun langsung ke lapangan untuk meninjau penanganan karhutla serta memetakan langkah mitigasi di kawasan TNBTS.
Pergerakan Api Meluas, Bukan Titik Api Baru
Usai meninjau lokasi, Emil mengklarifikasi bahwa kobaran api yang terlihat membumbung pada malam hari sebelumnya bukanlah kemunculan titik api baru, melainkan kobaran lanjutan dari area yang belum padam sempurna.
Sisa bara api yang tersembunyi di balik serasah dan vegetasi hutan menjadi pemicu utama menjalarnya api saat dihempas angin kencang.
“Yang terlihat semalam itu adalah lanjutan dari kebakaran lama. Jadi pergerakannya kelihatan meluas, bukan muncul titik baru,” terang Emil Dardak di lokasi peninjauan.
Emil menekankan bahwa tantangan terberat pemadaman di tengah musim kemarau adalah melacak dan memadamkan “sampah” bara api tersembunyi. Vegetasi alang-alang yang mengering membuat percikan sekecil apa pun mudah tersulut kembali.
“Di dalam hutan itu masih menyimpan api-api kecil. Begitu terpicu oleh hembusan angin, api langsung menyala lagi dan menyambar ke alang-alang yang kering. Terlebih di musim kemarau ini, penyebarannya bisa berlangsung sangat cepat,” tambahnya.
Soroti Risiko Pengunjung dan Pembatasan Akses
Menanggapi spekulasi mengenai penyebab kebakaran, Emil menegaskan bahwa kawasan terdampak bukanlah area garapan warga lokal, sehingga kecil kemungkinan adanya aktivitas pembukaan lahan pertanian. Fokus kewaspadaan Pemprov Jatim saat ini justru tertuju pada aktivitas wisatawan dan faktor ketidaksengajaan manusia.
“Ini bukan lahan garapan, jadi tidak ada alasan warga bercocok tanam di sini. Yang sangat kami khawatirkan justru keselamatan pengunjung,” ujar Emil.
Guna mencegah jatuhnya korban jiwa serta mempermudah ruang gerak petugas pemadam di lapangan, Pemprov Jatim bersama pengelola TNBTS memperketat pembatasan keluar-masuk orang di area terdampak. Langkah sterilasi ini dinilai krusial mengingat ancaman bara api tersembunyi dan terpaan angin kemarau masih berpotensi memicu ledakan kebakaran susulan.


