Temuan mengejutkan sebanyak 996 pucuk senjata di ruangan mantan Ketua Yayasan sebuah sekolah swasta di Jakarta Selatan terus memicu gelombang sorotan publik. Yan Sofyan Syafe’i, salah satu pendiri yayasan sekolah tersebut, akhirnya buka suara dan tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya atas skandal yang mencoreng institusi pendidikan tersebut.
“Kami selaku pendiri yang mendirikan sekolah ini merasa bersedih sekali dengan adanya hal seperti ini. Namun, insyaallah seperti yang saya sampaikan, mudah-mudahan semua ini dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya,” ujar Sofyan dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Sejarah Sekolah dan Visi Lahirnya Lembaga Pendidikan
Sofyan mengisahkan kembali masa-masa awal pendirian sekolah tersebut yang digagas oleh para tokoh nasional, termasuk Mantan Wakil Presiden RI Adam Malik, Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro, Mawardi Labay El-Sulthani, serta dirinya sendiri. Tujuan utamanya saat itu murni untuk mencerdaskan anak bangsa dan membentuk generasi saleh serta berprestasi.
“Dahulu kami sowan ke Pak Adam Malik. Beliau yang mengarahkan bahwa ada lahan di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran. Dari sanalah kami merintis yayasan ini dengan visi-misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami berharap kasus ini segera selesai agar aktivitas belajar-mengajar kembali kondusif,” tutur Sofyan.
Pihak Eks Ketua Sebut Senjata Airsoft Gun Berizin untuk Ekskul
Di sisi lain, tuduhan miring tersebut langsung ditampik oleh Alhadid Endar Putra, kuasa hukum eks Ketua Yayasan (IWD) sekaligus Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin. Alhadid mengarahkan klarifikasi bahwa 995 pucuk senjata yang ditemukan sebenarnya merupakan jenis airsoft gun milik PT Lokta Karya Perbakin.
Senjata-senjata tersebut disimpan di area gudang sekolah sejak 2020 sebagai bagian dari rencana kerja sama program ekstrakurikuler (ekskul) menembak antara perusahaan dan pengurus yayasan periode sebelumnya.
“Senjata-senjata itu resmi dan berizin. Kami sudah perlihatkan dokumen perizinannya kepada penyidik kepolisian dan siap kita buka secara transparan di Polres,” jelas Alhadid.
Menduga Ada Aksi Saling Tuding Buntut Konflik Pengurus
Alhadid menyayangkan pimpinan yayasan yang sekarang terkesan berpura-pura tidak tahu mengenai asal-usul senjata tersebut, padahal keberadaannya di gudang sudah disadari sejak lama. Ia menduga isu senjata ini sengaja dibesar-besarkan di tengah memanasnya konflik internal kepengurusan yayasan.
Menurut Alhadid, perpecahan internal di tubuh yayasan telah meruncing sejak pembina yayasan terdahulu diberhentikan secara sepihak pada awal tahun.
“Saya cermati ada dinamika konflik internal di yayasan ini. Pembina yang baru menduduki posisi sejak April 2026 diduga sempat memberhentikan pembina lain secara sepihak. Jadi persoalan ini meletus di tengah konflik kepengurusan,” pungkasnya.


