Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi tidak akan pernah menggantikan esensi dasar dari kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan adalah seni mengambil keputusan, keberanian keluar dari zona nyaman, serta kesiapan menanggung risiko atas setiap pilihan.
Hal tersebut ditegaskan Menko AHY saat menghadiri peluncuran buku Kepemimpinan AHY di Menteng, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Peluncuran buku ini menjadi kejutan spesial bagi AHY karena disusun secara rahasia oleh 27 penulis muda dari beragam latar belakang keilmuan sebagai hadiah ulang tahunnya.
Penyunting buku sekaligus Staf Khusus Menko, Herzaky Mahendra Putra, menjelaskan bahwa buku ini mengulas rekam jejak dan gagasan AHY dari berbagai sudut pandang—mulai dari ekonomi, komunikasi, hingga kesehatan—guna membuka ruang diskusi publik yang berbasis pada karya dan rekam jejak nyata.
“Teknologi mungkin berkembang pesat, tapi leadership does matter. Kepemimpinan tidak pernah bisa berjalan secara autopilot. Pada akhirnya, kepemimpinan adalah sebuah seni aplikasi di lapangan di mana pengalaman dan pembacaan situasi menjadi penentu,” tegas AHY di hadapan ratusan tokoh nasional yang hadir.

Transformasi Karier dan Keberanian Keluar dari Zona Nyaman
Buku tersebut merekam jejak perjalanan AHY mulai dari pengabdiannya di dunia militer, keberanian bertransisi ke panggung politik nasional, hingga kini menjabat sebagai Menko dalam Kabinet Presiden Prabowo Subianto.
AHY menyebut fase transisi dari militer ke dunia politik merupakan keputusan besar yang penuh dengan ketidakpastian dan risiko. Namun, modal utama seorang pemimpin justru ditempa dari keberanian menghadapi tantangan tersebut.
“Harus ada keberanian. Keberanian untuk mengambil keputusan besar, sekaligus keberanian untuk bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Pemimpin juga dibentuk dari kemampuannya untuk bangkit saat menghadapi kegagalan,” ujarnya.
Ia secara khusus mengajak Gen Z dan generasi muda untuk tidak bersikap apatis terhadap ruang publik. Menurutnya, demokrasi membutuhkan sumber daya manusia yang berintegritas agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.
“Mari kita tunjukkan bahwa selalu ada jalan bagi idealisme, selalu ada jalan bagi gagasan yang baik, dan selalu ada jalan bagi mereka yang memiliki mentalitas untuk bangkit,” imbau AHY.
Seni Mengelola Trade-Off dan Kepentingan Publik
Menjelaskan dinamika dalam pemerintahan, AHY menggarisbawahi bahwa setiap keputusan publik pasti dihadapkan pada keterbatasan sumber daya (limited resources) dan pilihan sulit (trade-off). Menurutnya, seorang manajer atau pemimpin yang efektif harus cermat menyusun skala prioritas ketimbang berusaha memuaskan semua pihak.
Kompleksitas pemerintahan yang melibatkan kementerian, lembaga, parlemen, hingga aspirasi masyarakat luas menuntut kemampuan orkestrasi yang matang agar kebijakan yang diambil berdampak positif bagi kepentingan umum.
“Tidak pernah bisa kita memuaskan semua pihak. Setiap kebijakan pasti ada trade-off-nya. Tugas pemimpin adalah mengorkestrasi berbagai kepentingan tersebut, menetapkan prioritas, dan menjelaskan konsekuensinya kepada publik secara jujur,” pungkasnya.
Acara peluncuran buku tersebut dihadiri oleh sederet tokoh nasional, pejabat tinggi negara, pengamat politik Rocky Gerung, jajaran Kepala Daerah, hingga perwakilan organisasi pemuda dan mahasiswa.