TEHERAN, IRAN – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan tuduhan serius bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) meninggalkan instalasi militer mereka dan bersembunyi di kawasan sipil. Tuduhan tersebut diperkuat oleh pernyataan milisi Iran yang mengklaim telah menghancurkan 17 pangkalan AS dalam operasi terbaru.
Dalam serangkaian unggahan di media sosial X, Menlu Araghchi menuduh bahwa personel AS tidak lagi berada di pangkalan militer mereka di kawasan Dewan Kerjasama Teluk (GCC), melainkan berlindung di hotel dan fasilitas sipil.
“Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor. Mereka menggunakan warga GCC sebagai perisai manusia,” tulis Araghchi, seperti dikutip pada Jumat (27/3/2025).
Araghchi secara khusus menyoroti penggunaan fasilitas sipil ini sebagai celah keamanan, mengkritik otoritas Teluk yang dianggap membiarkan praktik tersebut. Ia membandingkannya dengan standar keamanan hotel di Amerika Serikat yang menurutnya menolak reservasi dari perwira yang dianggap membahayakan keselamatan pelanggan.
“Hotel-hotel di AS menolak pemesanan kepada perwira yang dapat membahayakan pelanggan. Hotel-hotel di GCC seharusnya melakukan hal yang sama,” tegasnya.
Selain tuduhan taktik militer, Araghchi juga mengkritik kebijakan luar negeri AS yang dinilainya menerapkan standar ganda. Ia menyoroti dukungan Washington terhadap blokade Gaza yang dilakukan Israel, sembari mengutuk tindakan defensif Iran di Selat Hormuz.
“AS mendukung blokade Gaza oleh Israel, memotong bantuan dengan dalih ‘keamanan’, namun mengutuk Iran karena membela diri di Selat Hormuz. Standar ganda: kejahatan Israel dianggap wajar sementara pembelaan Iran terhadap agresor dikutuk,” ujar Araghchi.
Menlu Iran bahkan merujuk pada sejarah propaganda perang untuk menyoroti apa yang ia sebut sebagai manipulasi opini publik oleh AS. Ia mengaitkan strategi komunikasi AS saat ini dengan metode Edward Bernays, pelopor persuasi massa di masa lalu.
“Dikatakan bahwa Edward Bernays, pelopor persuasi massa, bertugas di Komite Informasi Publik dan bekerja untuk membantu Woodrow Wilson menggalang dukungan rakyat Amerika untuk perang di Eropa… Ketika ia dan Walter Lippmann bertemu presiden pada tahun 1917, mereka dilaporkan mengatakan ‘Kita dapat menjual perang kepada publik’,” paparnya.
Pernyataan diplomatik ini diperkuat oleh pernyataan militer yang lebih agresif dari jajaran angkatan bersenjata Iran. Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, mengklaim bahwa saat ini Amerika Serikat tengah terpojok dan mengalami tekanan signifikan di kawasan.
“Amerika terpaksa untuk pertama kalinya meninggalkan pangkalan mereka dan menginap di hotel,” kata Jenderal Shekarchi.
Ia menambahkan bahwa perlawanan terus memburu pasukan AS di kawasan tersebut. Dalam pernyataannya, Jenderal Shekarchi meremehkan kekuatan militer AS dengan menyebutnya sebagai “macan kertas”. Ia juga menilai kehadiran militer Amerika di Asia Barat hanyalah kedok untuk melindungi kepentingan Israel, bukan untuk menjaga stabilitas regional.
Lebih lanjut, pejabat militer Iran tersebut merinci skala serangan yang diklaim telah dilancarkan terhadap aset-aset AS. Menurut pernyataan yang dikutip oleh media Al Mayadeen, operasi yang sedang berlangsung itu telah mengakibatkan kerusakan besar.
“Sejauh ini operasi tersebut telah mengakibatkan hancurnya 17 pangkalan Amerika di wilayah tersebut,” klaim Shekarchi.
Ia menjelaskan bahwa akibat tekanan tersebut, pasukan AS terpaksa mengubah metode operasional mereka dan beroperasi dari jarak jauh. Para pejabat Iran menegaskan bahwa tindakan militer ini merupakan bagian dari respons berkelanjutan terhadap apa yang disebut sebagai agresi AS dan Israel.
Shekarchi menekankan bahwa konflik saat ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat sebelum tuntutan tertentu dipenuhi. Ia juga menyebut bahwa situasi pasca-konflik akan meninggalkan luka yang mendalam bagi posisi Amerika di kawasan.
“Penghentian perang tidak akan mungkin terjadi kecuali setelah tercapainya kondisi yang diusulkan. Kembali ke situasi sebelum 28 Februari akan membutuhkan waktu bertahun-tahun,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Amerika Serikat dan pihak militer Central Command (CENTCOM) belum memberikan respons resmi terkait tuduhan penggunaan perisai manusia serta klaim kerusakan pangkalan tersebut.