Ketegasan Pemerintah Indonesia dalam melindungi anak-anak di jagat maya memasuki babak baru yang kian panas. Hanya dua hari setelah PP Tunas resmi diberlakukan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) langsung melayangkan “surat cinta” berupa pemanggilan resmi kepada dua penguasa jagat digital: Meta dan Google.
Keduanya dinilai masih “tutup mata” terhadap aturan pembatasan usia pengguna minimal 16 tahun, sementara platform lain seperti X dan Bigo Live justru sudah mencuri start dalam hal kepatuhan.
Menkomdigi Meutya Hafid mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan ketat selama 48 jam pertama implementasi kebijakan, terdapat perbedaan kontras antara perilaku para raksasa teknologi ini:
-
Sang Juara Kepatuhan: X (dahulu Twitter) dan Bigo Live mendapat apresiasi karena langsung menerapkan penundaan akses bagi pengguna di bawah 16 tahun.
-
Masih Berproses: TikTok dan Roblox dinilai cukup kooperatif meski belum sepenuhnya memenuhi standar aturan.
-
Dalam Bidikan Sanksi: Meta (Facebook, Instagram, Threads) dan Google (YouTube) secara resmi dipanggil karena dianggap melanggar Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026.
Melindungi 70 Juta Masa Depan Bangsa
Langkah drastis ini bukan tanpa alasan. Meutya menekankan bahwa ada sekitar 70 juta anak Indonesia di bawah usia 16 tahun yang saat ini berisiko terpapar adiksi dan bahaya ruang digital. Dengan rata-rata waktu scrolling orang Indonesia mencapai 8 jam per hari, pembatasan ini menjadi “rem darurat” yang mendesak.
“Indonesia ingin bekerja sama dengan platform yang memiliki itikad menghormati Indonesia, bukan hanya menjadikan kita sebagai pasar digital, tetapi juga patuh demi perlindungan anak,” tegas Meutya, Senin (30/3/2026).
Pemerintah menyadari bahwa mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah kecanduan layar tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Namun, Indonesia tidak sendirian; kebijakan serupa sudah mulai menjadi tren global di Eropa hingga Timur Tengah.
Komdigi pun mengajak para orang tua untuk berdiri di barisan yang sama: menjadi pengawas paling depan bagi anak-anak mereka sekaligus penekan bagi platform yang masih nakal.