LONDON, UK — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan mengerahkan pasukan ke Iran, sebuah langkah yang menjauhkan Inggris dari potensi keterlibatan langsung dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Al Jazeera, Starmer menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah tanggung jawab langsung negaranya. “Ini bukan perang kita, dan kita tidak akan terseret ke dalamnya,” ujarnya.
Meskipun menolak keterlibatan militer secara langsung, Starmer menjelaskan bahwa Inggris akan tetap mengambil langkah-langkah defensif. Fokus utama pemerintahannya adalah melindungi warga negara Inggris, mengamankan kepentingan nasional, serta mendukung sekutu di kawasan yang tengah dilanda ketegangan.
“Kita tidak akan terseret ke dalam perang ini,” tegasnya seraya menambahkan bahwa Inggris akan terus berupaya membantu membuka kembali jalur pelayaran vital, Selat Hormuz.
Sikap hati-hati Inggris ini kontras dengan langkah-langkah operasional yang tetap diambil di belakang layar. Pemerintah Inggris telah menyetujui penggunaan pangkalan militernya oleh Amerika Serikat untuk melakukan serangan terhadap target-target Iran yang dinilai terkait dengan ancaman di Selat Hormuz. Selain itu, Inggris juga telah mengerahkan jet tempur untuk melakukan intersepsi terhadap proyektil yang diluncurkan Iran.
Langkah Spanyol Perkuat Tekanan Diplomatik
Di tengah dinamika tersebut, sikap tegas justru datang dari Spanyol. Pemerintah Madrid melarang pesawat militer Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi serangan terhadap Iran untuk menggunakan wilayah udaranya. Larangan ini memperluas kebijakan sebelumnya yang hanya membatasi akses ke pangkalan militer yang dioperasikan bersama.
Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, menyatakan dengan gamblang bahwa negaranya tidak ingin terkait dengan tindakan ofensif di wilayah Iran. “Kami tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militer atau penggunaan wilayah udara untuk tindakan yang terkait dengan perang di Iran,” kata Robles. Keputusan ini memaksa sejumlah pesawat militer AS untuk mengubah rute penerbangan mereka, meskipun penerbangan darurat tetap diberikan pengecualian.
Sikap Spanyol semakin dipertegas oleh jajaran menteri ekonominya. Menteri Ekonomi Carlos Cuerpo menilai bahwa kebijakan tersebut merupakan cerminan dari penolakan Spanyol terhadap perang yang dilancarkan secara sepihak dan dinilai bertentangan dengan hukum internasional. Sebelumnya, Perdana Menteri Pedro Sanchez juga secara konsisten mengkritik perang yang melibatkan AS dan Israel, bahkan di tengah ancaman pembalasan perdagangan dari Presiden AS Donald Trump.
Ancaman Trump dan Tekanan di Selat Hormuz
Ketegangan diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap infrastruktur energi sipil Iran. Dalam unggahan di media sosial, Trump menyatakan akan menargetkan pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz untuk aktivitas pelayaran komersial.
Trump mengklaim bahwa kemajuan besar telah dicapai dalam negosiasi, namun ia tidak segan untuk meningkatkan tindakan jika kesepakatan tidak kunjung tercapai. “Kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, yang kemungkinan besar akan terjadi, dan jika Selat Hormuz tidak segera ‘Dibuka untuk Bisnis,’ kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka,” tulis Trump.
Ancaman tersebut memperumit situasi di kawasan, di mana Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak dunia. Sementara Inggris berupaya memainkan peran sebagai penengah dengan fokus pada upaya pembukaan jalur pelayaran, langkah Spanyol menunjukkan adanya perpecahan sikap di antara sekutu NATO dalam menanggapi kebijakan agresif AS terhadap Iran.