Gelombang eksekusi mati di Iran kian tak terbendung. Di tengah bara pemberontakan nasional yang meletus sejak akhir 2025, Teheran justru mempercepat “mesin kematian” mereka untuk membungkam suara-suara perlawanan. Hanya dalam hitungan minggu, belasan nyawa demonstran telah melayang di ujung tali gantung.
Republik Islam Iran kembali mengejutkan dunia dengan melaksanakan dua eksekusi gantung pada Minggu (5/4/2026). Mohammadamin Biglari (19) dan Shahin Vahedparast menjadi martir terbaru dari aksi protes massal Januari 2026. Eksekusi ini menambah daftar kelam sedikitnya 12 demonstran yang telah dihukum mati sejak pertengahan Maret lalu.
Kedua pemuda ini dituduh mencoba menyerbu fasilitas militer, sebuah narasi yang dibantah keras oleh pengacara pembela. Pihak pembela menyebut para pengunjuk rasa justru dijebak oleh petugas berpakaian sipil di dalam gedung yang sengaja dibakar untuk menciptakan alasan penangkapan.
Teror yang Disponsori Negara
Kampanye hukuman mati ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk menebar ketakutan di tengah rakyat. Amnesty International melaporkan bahwa persidangan berjalan “sangat tidak adil” dan hanya mengandalkan pengakuan yang didapat melalui penyiksaan fisik maupun psikologis.
Kekhawatiran dunia kini memuncak setelah pejabat penuntut mengancam akan mengeksekusi tahanan yang tersisa satu per satu setiap harinya. Sosok seperti Ali Fahim dan Abolfazl Salehi kini berada dalam bayang-bayang maut yang bisa menjemput kapan saja.
“Ini adalah pembunuhan yang disponsori negara, dirancang khusus untuk meneror penduduk agar tidak lagi berani turun ke jalan,” tulis pernyataan tegas dari Center for Human Rights in Iran.
Ribuan Nyawa di Ujung Tanduk
Sejak pemberontakan nasional pecah pada Desember 2025, aparat keamanan dilaporkan telah menewaskan ribuan orang di lapangan. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 24.000 penangkapan telah dilakukan.
Yang lebih memilukan, Amnesty International mengidentifikasi setidaknya 30 orang lainnya—termasuk anak-anak—yang kini sedang mengantre di barisan hukuman mati. Dengan pernyataan tegas dari lembaga peradilan bahwa “tidak akan ada pengampunan”, gelombang eksekusi ini diprediksi masih jauh dari kata usai.
Dunia kini menanti, apakah tekanan internasional mampu menghentikan derit tiang gantung di Teheran, ataukah lebih banyak nyawa muda akan kembali dikorbankan demi stabilitas rezim.