JAKARTA – Pergerakan rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan pasar, namun kondisi ini justru membuka peluang strategis bagi ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Nilai tukar rupiah pada penutupan Rabu (8/4) di level 17.005 per dolar AS atau naik 82 poin (0,48 persen) melanjutkan penguatan hari sebelumnya. Namun secar bulanan (MoM), rupiah melemah 0,54 persen dari posisi 16.923 per dolar AS pada 9 Maret 2026 lalu.
Tekanan terhadap rupiah dinilai bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan dampak dari gejolak global seperti penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menilai pergerakan rupiah harus dilihat secara komprehensif dalam konteks global yang lebih luas.
Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi secara luas terhadap berbagai mata uang dunia, terutama di negara berkembang, akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat serta meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman.
“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” ujarnya, Rabu (8/4).
Ia menegaskan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang solid dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5 persen.
Inflasi juga masih terkendali sesuai target Bank Indonesia, sementara sektor perbankan menunjukkan ketahanan kuat dengan likuiditas dan permodalan yang memadai.
Cadangan devisa Indonesia pun tetap berada di level aman, yakni sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026, yang cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor.
Selain itu, surplus neraca perdagangan menjadi penopang penting yang didorong oleh ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Fakhrul Fulvian yang menilai pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting akibat respons pasar yang berlebihan terhadap tekanan global.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa lambatnya penyesuaian harga domestik, terutama yang diatur pemerintah, membuat nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat bereaksi terhadap tekanan eksternal.
Meski begitu, langkah intervensi Bank Indonesia di pasar dinilai efektif untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor meski tidak langsung menghilangkan tekanan secara instan.
Di balik pelemahan rupiah, terdapat peluang besar bagi peningkatan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
David melihat momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong substitusi impor sekaligus memperkuat struktur industri dalam negeri.
Sementara itu, Fakhrul mencermati adanya sinyal stabilisasi global yang mulai terlihat dari meredanya tensi geopolitik serta kenaikan harga komoditas.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah secara bertahap dan mendorong proses normalisasi nilai tukar.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya menjadi cerminan dinamika global, tetapi juga peluang untuk memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.***