WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perintah langsung kepada Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz secara penuh, menyusul kegagalan perundingan maraton dengan Iran yang digelar di Pakistan selama akhir pekan.
Langkah tegas ini diambil hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan apa pun. Perundingan yang berlangsung selama 21 jam itu bertujuan memperkuat gencatan senjata sementara dan mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, menewaskan ribuan korban jiwa serta mengganggu pasokan minyak global.
Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui platform Truth Social miliknya pada Minggu (12/4/2026). Dalam unggahannya, ia menegaskan bahwa blokade akan berlaku segera.
“Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz,” tulis Trump, seperti dilansir AFP.
Ia melanjutkan dengan ancaman keras terhadap Iran. “Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur (blown to hell)!” imbuhnya.
Presiden AS yang berusia 79 tahun itu juga mengisyaratkan keterlibatan negara-negara lain dalam operasi blokade, meski tidak merinci lebih lanjut. Ia menekankan bahwa AS telah “sepenuhnya locked and loaded” atau siap tempur sepenuhnya, dan memperingatkan bahwa pasukan Amerika siap “menghabisi sisa-sisa kecil dari Iran” jika diperlukan.
Perundingan 21 Jam Berakhir Sia-Sia
Perundingan di Islamabad melibatkan delegasi tinggi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump. Sementara pihak Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Dalam konferensi pers singkat di Islamabad sebelum keberangkatan, Vance mengakui adanya kemajuan diskusi, namun akhirnya gagal mencapai kesepakatan.
“Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Trump mengklaim bahwa negosiasi sempat berjalan baik dengan sebagian besar poin telah disepakati. Namun, ia menuding Iran bersikeras menolak menyerah terkait program nuklirnya.
Menurut Trump, Iran juga gagal memenuhi janji membuka Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum konflik meletus. Ia menyoroti klaim Teheran yang memasang ranjau di perairan tersebut, meski sebagian besar armada laut dan kapal pemasang ranjau Iran telah hancur akibat serangan AS dan Israel.
“Mereka bilang mereka memasang ranjau di air, meskipun seluruh Angkatan Laut mereka, dan sebagian besar ‘penebar ranjau’ mereka, telah hancur total. Mereka mungkin saja melakukannya, tetapi pemilik kapal mana yang mau mengambil risiko?” tulis Trump.
“Sesuai janji mereka, mereka sebaiknya segera memulai proses pembukaan jalur air internasional ini dengan cepat!” tegasnya.
Latar Belakang Blokade dan Dampak Global
Iran telah memblokade Selat Hormuz selama berminggu-minggu sebagai respons terhadap serangan militer AS dan Israel. Pada Sabtu (11/4/2026), Washington mengumumkan bahwa dua kapal perang AS telah melintasi selat tersebut untuk memulai operasi pembersihan ranjau.
Kegagalan perundingan ini meninggalkan gencatan senjata dua minggu dalam kondisi rapuh. Konflik yang pecah sejak akhir Februari telah mengacaukan pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak, dan menimbulkan kekhawatiran eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
Trump menerima laporan lengkap dari tim negosiasinya dan langsung merespons dengan perintah blokade. Ia menekankan bahwa tindakan ini dilakukan untuk kepentingan perdagangan internasional, meski langkah tersebut berpotensi memicu konfrontasi langsung di perairan strategis tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terhadap pengumuman blokade AS. Situasi di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya kini dalam pemantauan ketat komunitas internasional.
Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah konflik AS-Iran yang telah memasuki fase kritis ini.