JAKARTA – Pasukan Israel kembali melancarkan serangan udara di Gaza, menewaskan delapan warga Palestina termasuk dua anak-anak pada Minggu (2/8/2026). Dengan demikian, jumlah korban tewas mencapai 18 orang hanya dalam tiga hari sejak Presiden AS, Donald Trump mengumumkan rencana pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel, yang disebutnya sebagai “langkah monumental” menuju perdamaian.
Dilansir Aljazeera, serangan di Menara Al-Sousi, Kota Gaza, menewaskan Abdullah Abu Taif (33), istrinya Abeer Anan (29), dan putra mereka Azzam (5). Di Al-Qarara, Khan Younis, tiga anggota keluarga Al-Hams juga tewas, sementara tiga lainnya terluka. Di Deir Al-Balah, Kamu Abu Muailiq (68) dan istrinya Huda (59) meninggal akibat serangan terhadap rumah mereka. Israel juga menghantam gudang obat-obatan yang terhubung dengan Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, menghancurkan dua fasilitas dan merusak dua lainnya.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengecam serangan tersebut, menyebut penghancuran persediaan medis sebagai upaya menjadikan “obat-obatan dan penyakit itu sendiri sebagai alat perang.” Koresponden Al Jazeera melaporkan serangan terjadi hanya 15 menit setelah perintah evakuasi, merusak tenda pengungsi dan memicu gelombang pengungsian baru.
Pesawat tempur Israel disebut beroperasi tanpa peringatan, menargetkan bangunan sipil yang diklaim sebagai lokasi anggota Hamas. “Serangan itu terjadi tanpa peringatan atau perintah evakuasi bagi warga yang tinggal di daerah sasaran,” kata koresponden Al Jazeera, Nour Khaled.
Sejak Jumat, serangan Israel telah menewaskan warga di berbagai lokasi, termasuk kawasan industri dan jalan utama di Kota Gaza. Pemerintah Singapura sebelumnya menegaskan dukungan pada solusi dua negara, namun serangan terbaru ini menambah ketegangan di tengah upaya diplomasi yang digagas Washington.



