VIRGINIA, AS – Badan intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Israel (Mossad) dilaporkan menghadapi tantangan besar dalam upaya melacak keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Berbeda dengan tokoh-tokoh penting lain yang masih meninggalkan jejak komunikasi digital, Mojtaba disebut menjalani kehidupan dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi sehingga menyulitkan proses pelacakan.
Surat kabar Inggris *The Times* melaporkan, selama lima bulan terakhir Mojtaba Khamenei tidak pernah menggunakan telepon seluler, tidak melakukan panggilan telepon, bahkan tidak mengaktifkan laptop. Kondisi tersebut membuat badan intelijen Barat kehilangan salah satu sumber utama dalam operasi pengawasan modern.
Keberadaan Mojtaba kini disebut menjadi salah satu prioritas intelijen bagi CIA dan Mossad, terutama setelah ia ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret lalu, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan meninggal dunia pada hari pertama agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Sejak pengangkatannya, Mojtaba nyaris tidak pernah muncul di hadapan publik. Ia juga tidak menghadiri prosesi pemakaman ayahnya maupun merilis rekaman suara atau video yang dapat memastikan keberadaannya.
Menurut laporan tersebut, langkah itu dilakukan demi alasan keamanan.
The Times menyebut Mojtaba mengalami luka serius di bagian wajah akibat serangan udara yang terjadi pada akhir Februari. Setelah itu, ia dikabarkan berlindung di bunker bawah tanah dan menghindari segala aktivitas yang berpotensi mengungkap lokasinya.
“Setelah menderita luka parah di wajah akibat pengeboman 28 Februari saat bersama ayahnya, dia bersembunyi jauh di dalam bunker bawah tanah dan tidak dapat keluar ke sinar matahari karena khawatir ditangkap oleh satelit mata-mata AS,” tulis *The Times*.
Keheningan Total Hambat Operasi Intelijen
Laporan itu menilai strategi “keheningan total” yang diterapkan Mojtaba menjadi hambatan utama bagi operasi intelijen Amerika Serikat maupun Israel.
Selama ini, berbagai badan intelijen mengandalkan kombinasi penyadapan komunikasi, pelacakan perangkat elektronik, hingga pemantauan aktivitas digital untuk mengetahui lokasi target.
Namun dalam kasus Mojtaba, hampir seluruh jalur tersebut disebut tidak dapat digunakan karena tidak ada perangkat komunikasi yang aktif.
Bahkan klaim Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menyatakan pernah bertemu Mojtaba belum dapat diverifikasi secara independen sehingga belum menjadi bukti keberadaan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
HUMINT Jadi Andalan
Gagal memperoleh petunjuk melalui pengawasan siber, CIA dan Mossad kini dilaporkan lebih mengandalkan Human Intelligence (HUMINT) atau jaringan intelijen manusia.
Fokus pencarian diarahkan untuk memastikan apakah Mojtaba masih hidup sekaligus mengidentifikasi kemungkinan lokasi persembunyiannya.
Sejumlah lokasi yang disebut menjadi perhatian antara lain jaringan terowongan bawah tanah di Teheran hingga bunker militer di sekitar Kota Qom, salah satu pusat keagamaan terpenting di Iran.
Mantan Kepala Divisi Mossad, Rami Igra, mengatakan tantangan yang dihadapi badan intelijen Israel saat ini sangat kompleks.
“Tantangan yang dihadapi Israel sama seperti ketika kita mencoba menemukan sandera di Jalur Gaza,” ujar Igra kepada *The Times*.
Ia mengakui bahwa teknologi canggih belum tentu mampu mengungkap lokasi seseorang yang benar-benar memutus seluruh komunikasi digital.
“Badan intelijen Israel tidak mengandalkan intelijen manusia (HUMINT) untuk melacak sandera, dan bahkan memasang alat penyadap di setiap toilet, tetapi pada akhirnya gagal,” katanya.
Menurut Igra, sekalipun Mojtaba tidak menggunakan telepon, komunikasi tetap kemungkinan dilakukan melalui perantara.
“Bahkan jika Mojtaba tidak menggunakan telepon, jika dia masih hidup, dia akan menggunakan metode komunikasi seperti potongan kertas kecil, dengan beberapa tingkat kurir yang mengantarkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa strategi tersebut mengingatkan pada operasi CIA ketika memburu pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden, yang akhirnya terlacak melalui jaringan kurir.
Pengamanan Berlapis
Selain minimnya komunikasi elektronik, proses pelacakan juga dipersulit oleh sistem pengamanan internal yang sangat ketat.
Menurut Igra, hanya segelintir orang di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang diyakini mengetahui cara menghubungi Mojtaba.
“Ini sangat sulit karena pemeriksaan internal terhadap para pembantu Mojtaba sangat ketat, dan mungkin hanya dua atau tiga orang di dalam Korps Garda Revolusi Islam yang tahu cara menghubunginya,” katanya.
Kerahasiaan tersebut membuat jalur informasi semakin sempit sehingga peluang kebocoran menjadi sangat kecil.
Dugaan Gunakan Pengganti Tubuh
Kesulitan lain yang dihadapi intelijen Barat adalah dugaan penggunaan **body double** atau pengganti tubuh.
Mantan Letnan Kolonel Mossad, Avner Avraham, mengatakan sistem keamanan yang diterapkan begitu tertutup sehingga bahkan staf yang menyiapkan makanan tidak mengetahui siapa penerima sebenarnya.
“Bahkan personel yang menyiapkan makanan untuk Mojtaba pun tidak tahu apakah makanan yang mereka siapkan adalah untuk Mojtaba yang sebenarnya,” ujar Avraham.
“Mereka mungkin percaya bahwa mereka melayani pemimpin tertinggi, tetapi kemungkinan besar itu adalah pengganti tubuh,” lanjutnya.
Ia juga menjelaskan alasan mengapa hingga kini tidak ada rekaman suara Mojtaba yang dipublikasikan.
“Ada risiko terbongkar karena informasi seperti jenis perekam yang digunakan atau lokasi perekaman dapat diekstrak dari file audio,” katanya.
Dilema Jika Lokasi Berhasil Ditemukan
Meski upaya pencarian terus dilakukan, laporan tersebut menyebut menemukan lokasi Mojtaba belum tentu menyelesaikan persoalan.
Seorang mantan pejabat senior intelijen Amerika Serikat mengatakan keputusan mengenai langkah berikutnya akan menjadi pertimbangan yang sangat kompleks.
“Kecuali ada keyakinan yang sangat kuat bahwa seorang pemimpin penyelamat yang berdedikasi untuk masa depan demokratis bagi Iran akan muncul, apakah menyingkirkan pemimpin saat ini benar-benar akan memberikan manfaat praktis?” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan bahwa persoalan tidak hanya berhenti pada kemampuan menemukan lokasi Mojtaba Khamenei, tetapi juga menyangkut konsekuensi geopolitik yang dapat muncul apabila tindakan terhadap pemimpin tertinggi Iran benar-benar dilakukan.



