WASHINGTON – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kabar menggembirakan usai melakukan pertemuan strategis dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC pada Selasa (14/4).
Kabar tersebut yakni S&P memutuskan untuk mempertahankan rating Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil memperkuat kepercayaan global terhadap kondisi ekonomi nasional.
Penegasan ini sekaligus menjadi indikator bahwa kebijakan fiskal Indonesia masih berada di jalur aman di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam pertemuan tersebut, S&P memastikan bahwa peringkat kredit Indonesia tetap berada di level triple B (BBB) dengan prospek atau outlook yang stabil.
Status BBB sendiri merupakan kategori investment grade yang menandakan Indonesia masih dianggap layak investasi dengan risiko gagal bayar yang relatif rendah.
“Mereka (S&P) menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga dibawah 3 persen dari PDB” kata Menkeu Purbaya.
“Saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu, Presiden Prabowo telah memberikan arahan bahwa defisit kita dijaga dibawah 3 persen”.
Purbaya menjelaskan bahwa konsistensi menjaga defisit di bawah 3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat keyakinan S&P terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
Meski demikian, ia mengakui terdapat sedikit perhatian dari S&P terkait rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara atau pajak.
Namun, pemerintah memastikan bahwa rasio tersebut masih dalam batas aman dan dapat dikendalikan melalui peningkatan kinerja penerimaan negara.
“Saya sampaikan ke mereka kita sudah restrukturisasi organisasi Pajak dan Cukai supaya performnya lebih baik”.
“Dan ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan dibulan januari-maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen mereka sepetinya cukup puas”.
Perbaikan signifikan dalam penerimaan pajak dan cukai menjadi salah satu faktor yang memperkuat optimisme S&P terhadap prospek fiskal Indonesia ke depan.
“Dan beritanya agak menyenangkan buat saya bahwa S&P memberikan konfirmasi bahwa rating kita tetap triple B dengan outlook yang tetap stabil” kata Purbaya.
Selain faktor fiskal, S&P juga mencermati perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai menunjukkan tren positif.
Menurut Purbaya, lembaga tersebut melihat adanya perbaikan pada kinerja ekonomi nasional, terutama pada triwulan keempat yang lebih baik dibanding periode sebelumnya.
“Itu 2,9 persen pada waktu kita laporan awal tapi di angka pp nanti kira kira di angka 2,8 persen saya sebutkan indikasi itu jadi mereka sangat positif dengan rasio seperti itu”.
“Dan yang terpenting adalah mereka melihat bahwa pertumbuhan kita membaik di triwulan ke IV dibanding sebelumnya. Itu mungkin alasan mereka memberi konfirmasi saya kemarin bahwa outlook peringkat kita tetap stabil”.
S&P juga turut menyoroti rasio pembayaran bunga utang yang berada di atas 15 persen dibandingkan pendapatan negara sebagai salah satu aspek yang terus dimonitor.
“Mereka mendiskusikan lebih dalam bahwa rating, pembayaran bunga, dibanding incomenya diatas 15 persen”.
“Saya bilang itu akan kita monitoring terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan tetap kita jaga dan tidak memburuk dari sisi pembayaran”.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal agar indikator tersebut tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar.
Terkait penilaian sebelumnya yang menyebut Indonesia memiliki risiko tinggi di kawasan Asia, Purbaya meluruskan bahwa hal tersebut merupakan hasil asesmen lama sebelum pertemuan terbaru dengan S&P.
“Jadi saya kan meetingnya hari selasa (14/4), mereka meng assesment ulang dan ketika saya meeting dengan mereka akhirnya memberikan konfirmasi bahwa memang outlook kita tidak berubah masih stable dengan rating Triple B. Jadi intinya dari situ kita bukan yang lemah dari sisi fiskal”.
Secara keseluruhan, pemerintah menilai hasil pertemuan ini menunjukkan pandangan positif S&P terhadap fundamental ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.
“Kalau message dari mereka clear dan mereka Juli akan datang ke Indonesia untuk mendiskusikan hingga menilai kondisi ekonomi maupun anggaran secara keseluruhan” pungkas Purbaya.***