JAKARTA – Fakta terbaru terkait kecelakaan kereta di Bekasi Timur mengungkap bahwa KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan tinggi saat insiden terjadi.
Data dari Korlantas Polri menyebutkan laju kereta mencapai sekitar 110 kilometer per jam sebelum menghantam rangkaian KRL yang sedang berhenti.
Kondisi tersebut menjadi sorotan utama karena dinilai berkontribusi besar terhadap fatalnya dampak tabrakan yang menimbulkan korban jiwa.
Peristiwa nahas ini terjadi ketika KRL tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk keperluan evakuasi awal.
Dalam situasi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek datang dari arah belakang tanpa adanya perlambatan berarti.
“Kereta Argo Bromo melintas dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam saat kejadian.”
“Informasi yang tidak menyeluruh membuat kereta tidak melakukan perlambatan,” ujar Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri Kompol Sandhi Wiedyanoe, Selasa, 28 April 2026.
Keterangan tersebut mengindikasikan adanya persoalan pada sistem penyampaian informasi di lintasan kereta.
Koordinasi yang tidak optimal disebut menjadi salah satu faktor yang memicu kecelakaan tersebut.
Akibatnya, pengendalian kondisi di jalur rel tidak berjalan sebagaimana mestinya saat kejadian berlangsung.
“Akibatnya terjadi tabrakan di Stasiun Bekasi Timur yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Kejadian ini masih kami dalami untuk memastikan penyebab pastinya,” katanya.
Saat ini, penyelidikan masih terus berjalan dengan pendekatan teknologi modern.
Korlantas Polri memanfaatkan metode traffic accident analysis untuk mengurai kronologi kejadian secara detail.
Teknologi tersebut digunakan guna merekonstruksi seluruh rangkaian peristiwa sejak sebelum tabrakan hingga sesudah benturan terjadi.
Pendalaman ini diharapkan mampu mengungkap titik lemah dalam sistem keselamatan dan koordinasi di jalur kereta.
Selain itu, evaluasi menyeluruh juga dilakukan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang kembali di masa mendatang.
Wilayah Bekasi yang memiliki tingkat lalu lintas kereta tinggi dinilai membutuhkan pengawasan dan sistem pengamanan ekstra.
“Analisis ini penting untuk mengetahui titik kegagalan dalam sistem pengamanan. Kami berharap hasilnya dapat menjadi dasar evaluasi ke depan,” ujarnya.
Dalam perkembangan lain, insiden ini diketahui bermula dari gangguan kendaraan di perlintasan sebidang kawasan Bekasi Timur.
Sebuah taksi dilaporkan mengalami kendala teknis hingga menghambat jalur perjalanan kereta.
Sopir taksi tersebut kini telah diamankan oleh aparat kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Proses hukum masih berlangsung di Polres Metro Bekasi Kota guna mendalami keterkaitan peristiwa tersebut dengan kecelakaan yang terjadi.***