Gelombang musik Indonesia Timur kini benar-benar menjangkau telinga dunia. Lagu fenomenal “Tabola Bale” karya Silet Open Up secara resmi diumumkan masuk dalam nominasi bergengsi Music Awards Japan 2026. Lagu yang kental dengan nuansa budaya lokal ini akan bersaing ketat dalam kategori Best Asia Song.
Pengumuman yang dirilis pada 30 April 2026 ini menempatkan musisi asal Indonesia tersebut di jajaran elit Asia. Silet Open Up harus berhadapan dengan raksasa musik dari Korea Selatan seperti PLAVE, WOODZ, dan HUNTR/X, serta wakil dari Filipina, Cup of Joe.
Rekor Baru Musisi Indonesia
Pencapaian ini menjadikan Silet Open Up sebagai musisi Indonesia kedua yang berhasil menembus ajang bentukan industri musik Jepang ini. Ia mengikuti jejak Bernadya yang tahun lalu masuk nominasi lewat lagu “Satu Bulan”. Kini, harapan besar tertumpu pada Silet Open Up untuk membawa pulang piala yang tahun lalu diraih oleh grup K-Pop aespa.
Kategori Best Asia Song merupakan salah satu mahkota dalam ajang ini, bersanding dengan penghargaan prestisius lainnya seperti Artist of the Year dan Album of the Year.
Music Awards Japan bukan ajang sembarangan. Nominasi ditentukan berdasarkan metrik ketat dari Billboard Japan, Oricon, hingga Luminate. Setelah sistem otomatis menyaring karya terbaik, panel ahli dari industri musik Jepang memilih lima besar.
Nantinya, pemenang akan ditentukan oleh juri internasional yang terdiri dari 5.000 pakar industri musik dunia. Hal ini membuktikan bahwa kualitas musik Indonesia Timur telah diakui secara global secara teknis maupun popularitas.
Kesuksesan “Tabola Bale” di Jepang sebenarnya merupakan kelanjutan dari “tsunami” prestasi yang diraih sejak dirilis April 2025. Lagu yang dibawakan bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel ini sebelumnya telah menyapu bersih tiga piala AMI Awards 2025.
Daya tarik lagu ini tidak main-main. Hingga saat ini, video klipnya telah meledak dengan lebih dari 509 juta penayangan di YouTube dan diputar lebih dari 284 juta kali di Spotify. Prestasi di Music Awards Japan 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa daerah bukan penghalang bagi sebuah karya untuk mengguncang dunia.