JAKARTA — Suasana hangat menyelimuti Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) saat Jazz Goes To Campus (JGTC) memperkenalkan format barunya, The City Series. Momen ini tak hanya menjadi ajang peluncuran konsep, tetapi juga ruang diskusi tentang masa depan festival jazz legendaris tersebut di Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno—yang akrab disapa Si Doel—turut hadir dan memberikan pandangannya. Dengan gaya santai khasnya, ia menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi JGTC dalam berinovasi, terlebih di tengah momentum Jakarta menuju usia emasnya.
“Sekali lagi saya menyambut baik Jazz Goes To Campus ini,” ujarnya.
Selama ini, JGTC memang identik dengan Universitas Indonesia (UI). Namun, menurut Rano, sudah saatnya semangat jazz tidak hanya berpusat di kampus tersebut, melainkan “turun ke kota” dan menjangkau lebih banyak ruang publik di Jakarta.
“Biasanya Jazz Goes To Campus di UI, cuma sayangnya UI masuk Jawa Barat,” katanya setengah berkelakar.
Dari sinilah ia melihat The City Series sebagai langkah strategis. Konsep ini membuka peluang bagi JGTC untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak terpaku pada satu lokasi, melainkan menyebar ke berbagai kampus dan titik kreatif di ibu kota.
“Makanya saya bilang bikin city series-nya, supaya besok-besok teman-teman main ke Jakarta di beberapa kampus, agar Jakarta lebih meriah,” lanjutnya.
Dalam perbincangan yang cair, Rano juga menyinggung geliat kawasan Blok M yang kini semakin hidup sebagai pusat berkumpul anak muda. Bahkan, ia menyebutnya dengan istilah yang mengundang tawa.
“Kalau sekarang nih, Blok M jadi negara sendiri, negara Blok M,” ucapnya sambil tersenyum.
Pernyataan itu mencerminkan bagaimana ruang-ruang urban di Jakarta kini memiliki energi baru—dinamis, kreatif, dan inklusif. Menurutnya, atmosfer seperti ini sangat selaras dengan perkembangan musik jazz yang semakin fleksibel dan dekat dengan berbagai kalangan.
Tak hanya berhenti pada dukungan moral, Rano juga menegaskan adanya kolaborasi konkret dari pemerintah untuk mendukung ekosistem kreatif, termasuk festival seperti JGTC.
“Bahkan kita kerja sama dengan Kementerian Keuangan,” ungkapnya.
Kolaborasi ini menjadi sinyal bahwa festival musik tak lagi sekadar hiburan, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi kreatif kota.
Melalui The City Series, JGTC berupaya menghadirkan pengalaman baru dengan menggabungkan diskusi santai dan pertunjukan musik dalam satu rangkaian acara. Pendekatan ini membuat jazz terasa lebih dekat, tidak eksklusif, dan dapat dinikmati lintas generasi.
Bagi Rano Karno, langkah ini bukan hanya tentang musik, melainkan tentang bagaimana Jakarta terus berdenyut sebagai kota kreatif yang hidup.
Dengan menyebarkan JGTC ke berbagai sudut kota, bukan tidak mungkin ke depan jazz akan semakin akrab dalam keseharian warga, mulai dari lingkungan kampus hingga pusat nongkrong seperti Blok M.