JAKARTA — Mantan Direktur CIA sekaligus eks Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, mengungkap percakapan sensitifnya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2009 terkait rencana menyerang Iran. Dalam pengakuannya, Netanyahu disebut sangat yakin bahwa pemerintahan Iran akan langsung tumbang bila diserang Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Gates dalam program “Face the Nation” yang ditayangkan CBS pada Minggu waktu setempat. Pengakuan itu kembali membuka tabir perbedaan tajam antara pejabat tinggi AS dan Israel soal cara menghadapi Iran, terutama terkait opsi militer terhadap Teheran.
Gates mengatakan pertemuan dengan Netanyahu berlangsung pada Juli 2009, ketika tensi geopolitik di Timur Tengah tengah memanas akibat program nuklir Iran yang menjadi sorotan dunia internasional.
Dalam percakapan itu, Netanyahu disebut menggambarkan kondisi politik Iran sebagai rapuh dan mudah runtuh jika mendapat tekanan militer langsung.
“Dia meyakini rezim Iran akan jatuh pada serangan pertama,” ujar Gates mengenang pertemuan tersebut.
Namun, mantan kepala Pentagon itu mengaku langsung menolak pandangan Netanyahu. Menurutnya, asumsi bahwa Iran akan runtuh akibat serangan militer merupakan kalkulasi yang keliru dan berbahaya.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa dia salah besar,” kata Gates.
Ia menilai Netanyahu saat itu meremehkan daya tahan internal Iran, termasuk loyalitas masyarakatnya ketika menghadapi ancaman dari luar negeri.
Gates menegaskan bahwa sejarah menunjukkan tekanan eksternal justru sering kali memperkuat solidaritas domestik di Iran, bukan memicu keruntuhan pemerintahan.
Perbedaan Strategi AS dan Israel
Pengakuan Gates menjadi gambaran langka mengenai perdebatan panjang di balik layar antara Washington dan Tel Aviv terkait Iran. Selama bertahun-tahun, Israel dikenal mendorong pendekatan agresif terhadap Teheran, sementara sebagian pejabat AS lebih berhati-hati terhadap potensi perang regional berskala besar.
Menurut Gates, keyakinan Netanyahu kemungkinan dipengaruhi keberhasilan operasi militer Israel sebelumnya di Timur Tengah yang hanya memicu respons terbatas.
Ia menyinggung serangan Israel terhadap Reaktor Nuklir Osirak di Irak pada 1981, serta dugaan serangan terhadap fasilitas nuklir Suriah pada 2007.
Operasi-operasi tersebut dianggap berhasil menghambat program strategis lawan tanpa memicu perang terbuka berkepanjangan. Namun, Gates menilai Iran memiliki karakteristik berbeda dibanding Irak maupun Suriah.
“Pengalaman itu mungkin membentuk posisi yang tidak realistis mengenai bagaimana Iran akan merespons,” ungkapnya.
Pandangan Gates menyoroti kekhawatiran lama di kalangan pejabat keamanan AS bahwa serangan langsung ke Iran bisa memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.
Iran Dinilai Lebih Kompleks
Berbeda dengan Irak atau Suriah pada masa lalu, Iran memiliki jaringan milisi regional dan pengaruh geopolitik yang jauh lebih luas. Negara itu juga memiliki kapasitas militer yang dinilai mampu melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Israel maupun AS di kawasan.
Karena itu, sejumlah pejabat keamanan Amerika sejak lama memperingatkan bahwa langkah militer terhadap Teheran berpotensi menimbulkan konflik regional berkepanjangan.
Pernyataan Gates kembali memunculkan diskusi lama soal efektivitas tekanan militer terhadap Iran. Sebagian pihak percaya aksi keras dapat melemahkan Teheran, sementara pihak lain menilai pendekatan itu justru bisa memperkuat rezim dan memicu ketidakstabilan yang lebih luas.
Di sisi lain, hubungan AS dan Israel dalam isu Iran memang kerap diwarnai perbedaan pendekatan, meski kedua negara tetap menjadi sekutu dekat.
Sosok Robert Gates
Robert Gates dikenal sebagai salah satu pejabat keamanan paling senior dalam sejarah modern AS. Ia pernah menjabat Direktur CIA pada era Presiden George H. W. Bush sebelum kemudian dipercaya menjadi Menteri Pertahanan AS ke-22.
Gates memimpin Pentagon sejak 2006 pada masa pemerintahan George W. Bush dan tetap dipertahankan oleh Presiden Barack Obama hingga 2011.
Karena pengalamannya yang panjang di bidang intelijen dan pertahanan, pernyataan Gates dinilai memiliki bobot besar dalam membaca dinamika hubungan AS, Israel, dan Iran.