Suasana khidmat seketika menyelimuti Pondok Pesantren Husainiyah di Jalan Pamoyanan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Di balik dinding-dinding pesantren, seorang ibu bernama Hani Hanifa Humanisa (56) sedang berjuang melawan badai kecemasan di dalam dadanya.
Hani mencoba tetap berdiri tegar, merajut doa demi keselamatan putranya, Thoudy Badai Rifanbillah (29). Pria yang akrab disapa Ody itu adalah salah satu jurnalis muda Indonesia yang berada di dalam kapal delegasi kemanusiaan global menuju jalur Gaza, Palestina. Kapal yang tergabung dalam jaringan Global Sumud Flotilla tersebut dikabarkan telah dicegat paksa oleh militer Israel di lautan lepas.
Diskusi Malam Sebelum Keberangkatan
Sambil menahan getir, Hani mengenang momen-momen terakhir sebelum Ody bertolak melakukan peliputan yang mempertaruhkan nyawa tersebut. Sang putra rupanya sempat mengajjaknya berdiskusi sangat mendalam mengenai tugas jurnalistik internasional yang diembannya.
“Ody berdiskusi sangat mendalam dengan saya. Sebagai jurnalis, dia menyampaikan mendapatkan tugas peliputan pengiriman bantuan kemanusiaan lintas negara menuju Gaza. Partisipannya dari berbagai negara,” ujar Hani saat ditemui di Cicalengka, Selasa (19/5/2026), dilansir dari Kompas.com.
Sebagai ibu, Hani tak menampik hatinya bergejolak hebat. Rute yang dituju sang anak adalah salah satu kawasan paling mematikan di dunia saat ini. Namun, binar mata dan tekad kuat Ody untuk menyuarakan isu kemanusiaan perlahan meruntuhkan ego ketakutannya.
“Kami mendiskusikan banyak hal, termasuk segala risiko terburuk. Dari situ, saya melihat mata dan tekad anak saya. Dia memiliki concern yang sangat besar terhadap isu Palestina. Sebagai seorang ibu, bohong jika saya tidak khawatir. Namun, melihat niat baik dan profesionalismenya, tugas saya sebagai orang tua adalah memberikan ridha, dukungan penuh, dan doa terbaik,” kenangnya dengan tatapan berkaca-kaca.
Layar Radar yang Tiba-Tiba Berhenti
Selama perjalanan dari Indonesia hingga akhirnya naik ke atas dek kapal, Ody dikenal sangat rajin memberi kabar. Ia bahkan membagikan tautan radar pelacak kapal (live tracking) agar keluarga di Bandung bisa memantau posisinya secara langsung.
Namun, ketakutan terbesar Hani akhirnya menjadi kenyataan. Layar radar itu mendadak mengonfirmasi situasi darurat: kapal yang ditumpangi Ody diintersep secara paksa.
“Saat pertama kali mendengar kabar bahwa kapal delegasi diintersep dan Ody ikut mengalaminya, perasaan saya tentu tak bisa digambarkan. Sedih dan khawatir sebagai ibu adalah hal yang manusiawi. Namun, di saat yang sama, saya tahu saya harus tegar demi Ody,” ucap Hani dengan suara yang mulai bergetar.
Hebatnya, di tengah situasi genting, keluarga besar pesantren ini memilih untuk tidak tenggelam dalam kepanikan. Mereka bergerak taktis, berkoordinasi intensif dengan ruang redaksi tempat Ody bekerja, serta mengumpulkan informasi valid dari perwakilan Global Sumud Flotilla agar tidak terjebak spekulasi liar.
Pasrahkan pada Hukum Internasional dan Diplomasi RI
Terkait tindakan represif militer Israel, Hani memilih bijak dengan tidak melontarkan kecaman yang berapi-api. Ia justru mengetuk pintu hukum dunia untuk melindungi anaknya yang berstatus sebagai pekerja pers resmi.
“Kami fokus pada hukum humaniter internasional yang melindungi jurnalis. Fokus utama kami hari ini adalah keselamatan Ody dan kepulangannya,” tegas Hani.
Kini, seluruh harapan keluarga bertumpu pada langkah nyata dari Kementerian Luar Negeri RI. Hani percaya, negara tidak akan membiarkan warganya berjuang sendirian di tangan militer asing.
“Kami menaruh kepercayaan penuh kepada Pemerintah Indonesia. Kami yakin mereka tengah bekerja keras menggunakan jalur diplomasi internasional yang profesional untuk memastikan keselamatan seluruh WNI,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, Hani menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada rekan-rekan sejawat Ody dan seluruh masyarakat Indonesia yang terus mengalirkan dukungan moral. Energi positif itulah yang membuatnya mampu bertahan hingga hari ini.
“Dukungan luar biasa ini menjadi sumber kekuatan utama bagi kami. Kami tetap optimistis, teguh, dan percaya bahwa niat baik Ody akan membawanya pulang ke rumah dengan selamat dalam waktu dekat,” pungkas Hani lirih namun penuh keyakinan.