Jagat maya tengah dihebohkan oleh kabar meninggalnya seorang pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat infeksi hantavirus. Desas-desus ini liar beredar di media sosial dan dikaitkan dengan pemantauan kontak erat hantavirus dari penumpang kapal pesiar MV Hondius yang saat ini sedang diisolasi di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.
Banyak netizen berspekulasi bahwa kedua peristiwa tersebut saling bertautan, mengingat jenis hantavirus pada klaster kapal pesiar MV Hondius merupakan Andes virus—varian patogen yang dikonfirmasi bisa menular langsung antarmanusia.
Meski begitu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat meluruskan kesalahpahaman tersebut dan memastikan kedua temuan kasus itu sama sekali tidak berhubungan.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa korban jiwa yang tercatat di Bandung terserang hantavirus jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Karakteristiknya berbeda total dengan hantavirus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dibawa oleh strain Andes virus.
“Peristiwa di Bandung itu sebenarnya terjadi pada tahun 2025 dengan jenis klinis HFRS. Jadi jelas berbeda dengan jenis HPS yang diidentifikasi pada klaster kapal MV Hondius,” terang Andi kepada media, Rabu (20/5/2026).
Perbandingan Dua Tipe Hantavirus
Agar tidak memicu salah tafsir, berikut adalah perbedaan mendasar antara kedua jenis hantavirus yang sedang ramai dibicarakan:
| Karakteristik | Tipe HFRS (Kasus Bandung) | Tipe HPS / Andes virus (Kasus MV Hondius) |
| Geografi | Endemis di wilayah Asia dan Eropa (termasuk Indonesia sejak 1991). | Dominan ditemukan di kawasan benua Amerika. |
| Dampak Tubuh | Memicu demam berdarah yang disertai kerusakan/gangguan fungsi ginjal. | Menyerang organ paru-paru dan merusak sistem kardiovaskular. |
| Tingkat Kematian | Berada di kisaran 5 hingga 15 persen. | Jauh lebih agresif, fatalitasnya bisa menembus 60 persen. |
| Metode Penularan | Hanya lewat paparan kotoran, air liur, atau urine tikus (tidak menular antarmanusia). | Bisa menular antarmanusia melalui kontak erat. |
Kronologi Kasus di RSHS Bandung
Geger informasi ini bermula dari pemaparan medis dalam sebuah webinar sosialisasi kesehatan pada Selasa (19/5/2026). Dokter spesialis penyakit dalam RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu, membagikan studi kasus seorang pasien hantavirus lokal yang nyawanya tidak tertolong setelah dirawat intensif selama tiga hari.
-
Profil & Gejala Awal: Pasien tersebut berprofesi sebagai kuli bangunan. Ia mengeluhkan demam tinggi selama seminggu, yang kemudian merembet pada rasa nyeri di perut bagian kanan bawah serta perubahan warna urine menjadi sangat pekat.
-
Kondisi Memburuk: Memasuki fase kritis, bagian mata dan kulit pasien mulai menguning (gejala ikterik), disusul nyeri otot hebat, serta sesak napas akut yang memerlukan alat bantu napas (intubasi).
-
Kendala Penanganan: “Sangat disayangkan, ketika tim medis memberikan edukasi mengenai tindakan penyelamatan, pihak keluarga menolak prosedur tersebut hingga akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia,” ungkap dr. Elisabeth.
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Kesehatan meminta warga untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diimbau memperketat sanitasi lingkungan rumah serta menghindari interaksi langsung dengan sarang hewan pengerat seperti tikus.