Titik terang mengenai keberadaan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditawan militer Israel mulai terungkap. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa para relawan asal Indonesia tersebut saat ini telah dibawa dan ditahan di Pelabuhan Ashdod, wilayah Israel bagian selatan.
Sembilan WNI tersebut merupakan bagian dari delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang bergabung dalam koalisi internasional Global Sumud Flotilla (GSF). Skuadron kapal kemanusiaan ini sebelumnya berlayar dengan misi suci menembus barikade laut Israel guna menyalurkan bantuan logistik ke Jalur Gaza, Palestina.
“Berdasarkan pemutakhiran data dari sekretariat GPCI, seluruh aktivis kemanusiaan termasuk sembilan WNI kita telah digiring menuju Pelabuhan Ashdod,” ungkap Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, Rabu (20/5/2026) malam.
Penahanan Massal 430 Aktivis Dunia
Pemerintah Israel sendiri melansir informasi bahwa total ada 430 relawan dari berbagai penjuru dunia yang berada di dalam iring-iringan armada tersebut. Sebagian besar dari mereka saat ini dalam proses pemindahan paksa menuju daratan Israel.
“Sebanyak 430 aktivis telah kami evakuasi ke kapal-kapal militer Israel dan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan, di mana nantinya mereka akan diizinkan bertemu dengan delegasi konsuler negara masing-masing,” klaim juru bicara Kemlu Israel.
Langkah sewenang-wenang ini memantik kecaman keras dari Adalah, sebuah organisasi pemantau hak asasi manusia. Lembaga tersebut menegaskan bahwa aksi penangkapan para warga sipil ini terjadi di wilayah perairan internasional, yang berarti militer Israel telah melakukan aksi penculikan ilegal di luar yurisdiksi mereka.
“Agresi di laut lepas ini merupakan kelanjutan dari kebijakan kejam Israel yang menerapkan hukuman kolektif (collective punishment) serta metode kelaparan terstruktur terhadap warga sipil di Gaza,” tulis pernyataan resmi Adalah.
Tindakan Kekerasan dan Respons Santai Pejabat Israel
Kondisi para tawanan di Pelabuhan Ashdod dilaporkan sangat memprihatinkan. Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, terlihat jelas tindakan represif tentara Israel yang menjambak rambut, mendorong, hingga menyeret paksa para aktivis. Para relawan juga dipaksa berlutut di tanah dengan posisi kedua tangan terikat kencang ke belakang.
Ironisnya, situasi intimidasi tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang datang meninjau pelabuhan. Dalam video tersebut, Ben Gvir justru tampak tertawa lepas sembari mengibarkan bendera negaranya di hadapan para tawanan yang tak berdaya.
Operasi penyergapan bersenjata terhadap armada GSF ini sejatinya telah berlangsung selama beberapa hari terakhir di perairan internasional. Pihak Tel Aviv berdalih aksi kekerasan ini legal demi keamanan nasional mereka. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan melayangkan kecaman terbuka dengan melabeli konvoi kapal kemanusiaan global tersebut sebagai “skema terlarang yang dirancang sengaja untuk merusak blokade sah terhadap kelompok teroris di Gaza.”