BANDA ACEH – Sejumlah kader Partai Gerindra Aceh menggelar pertemuan dengan Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, guna membahas berbagai isu strategis daerah, mulai dari penguatan UMKM hingga pengembangan ruang digital yang sehat dan produktif di Aceh.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah politisi Gerindra Aceh, di antaranya Abdurrahman Ahmad, Mahfudz Y Loethan, Edy Asaruddin, dan Hadi Surya. Diskusi berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dengan menyoroti berbagai tantangan sosial dan digital di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Dalam kesempatan itu, Mahfudz Y Loethan menilai ruang digital perlu terus diarahkan menjadi sarana yang sehat, edukatif, dan produktif bagi masyarakat. Ia menyoroti pentingnya menjaga kualitas komunikasi di media sosial agar tetap mengedepankan etika, nilai sosial, dan budaya masyarakat Aceh.
Menurutnya, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk pola komunikasi publik, sehingga perlu dimanfaatkan secara positif untuk mendukung edukasi, pengembangan kreativitas generasi muda, hingga promosi UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Ruang digital harus menjadi ruang yang sehat dan produktif. Jangan sampai media sosial dipenuhi bahasa kasar, penghinaan verbal, dan konten yang menjauhkan masyarakat dari hal-hal positif. Apalagi Aceh memiliki karakter sosial dan nilai syariat yang harus dijaga,” ujar Mahfudz.
Hal senada disampaikan Abdurrahman Ahmad. Anggota DPRA dari Partai Gerindra itu menegaskan bahwa perkembangan media sosial perlu diimbangi dengan penguatan literasi digital agar ruang digital tetap memberi dampak positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Media sosial hari ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan perilaku sosial. Ketika publik setiap hari disuguhi bahasa kasar, penghinaan verbal, hingga tontonan yang merusak etika, maka lama-kelamaan itu bisa dianggap normal. Ini harus menjadi perhatian bersama,” kata Abdurrahman.
Ia menambahkan, Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhasan nilai sosial dan penerapan syariat Islam membutuhkan ruang digital yang mampu mendukung terciptanya komunikasi publik yang santun, edukatif, dan konstruktif.
Selain membahas ruang digital, diskusi juga menyinggung penguatan UMKM Aceh di era transformasi digital. Media sosial dinilai memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sarana promosi usaha, peningkatan literasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Tiar Nabilla Karbala menyatakan pihaknya memberikan perhatian terhadap penguatan literasi digital dan pengembangan ruang digital yang lebih sehat melalui koordinasi dengan kementerian terkait, khususnya bidang komunikasi dan digital.
“Tentu kita sepakat ruang digital dan media sosial harus menghadirkan hal-hal positif, edukatif, dan produktif bagi masyarakat. Tidak boleh dipenuhi konten-konten yang merusak, bahasa kasar, ataupun perilaku yang menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai baik. Ruang digital harus menjadi sarana pembelajaran, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan literasi masyarakat,” ujar Tiar.