JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan rivalitas panjang antara Persija Jakarta dan Persib Bandung seharusnya tetap berada di dalam lapangan pertandingan. Menurutnya, gesekan yang selama ini terjadi di luar arena sepak bola sudah tidak relevan dengan semangat sportivitas yang menjadi ruh olahraga.
Pernyataan itu disampaikan Rano saat menghadiri kegiatan di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5/2026). Di tengah upaya membangun citra sepak bola Indonesia yang lebih modern dan profesional, ia menilai hubungan antarsuporter juga harus mengalami perubahan menuju arah yang lebih dewasa.
Rivalitas Persija-Persib Dinilai Sudah Memasuki Fase Baru
Rano secara khusus menyoroti hubungan panas yang selama bertahun-tahun mewarnai pertemuan Persija Jakarta dan Persib Bandung. Rivalitas kedua klub terbesar di Indonesia itu kerap melahirkan tensi tinggi, tidak hanya di lapangan, tetapi juga di kalangan pendukung masing-masing tim.
Menurut dia, semangat kompetisi tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan. Ia menilai saat ini merupakan momentum bagi seluruh elemen sepak bola untuk meninggalkan konflik yang tidak produktif.
“Sementara maaf Persija dengan Persib sampai sekarang masih gontok-gontokan, ini sudah fasenya sudah harus lewat karena olahraga itu sportif, nah ini makanya kita harus belajar,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan di tengah meningkatnya dorongan berbagai pihak agar budaya suporter di Indonesia bertransformasi menjadi lebih positif. Sejumlah klub dan komunitas pendukung dalam beberapa tahun terakhir memang mulai mengampanyekan persaingan sehat tanpa kekerasan.
Persaingan Klasik yang Menjadi Wajah Sepak Bola Indonesia
Persija dan Persib dikenal sebagai dua klub dengan basis pendukung terbesar di Tanah Air. Setiap pertemuan kedua tim selalu menyedot perhatian publik dan menjadi salah satu pertandingan paling ditunggu dalam kompetisi nasional.
Namun di balik besarnya antusiasme itu, rivalitas keduanya juga memiliki sejarah panjang yang kerap diwarnai insiden antarsuporter. Kondisi tersebut beberapa kali menjadi perhatian pemerintah, operator liga, hingga federasi sepak bola nasional.
Karena itu, pernyataan Rano dinilai sebagai pesan penting bahwa rivalitas klasik tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk meningkatkan kualitas kompetisi, bukan menjadi sumber konflik sosial.
Bagi Pemprov DKI Jakarta, sepak bola modern tidak hanya berbicara soal prestasi klub, tetapi juga kedewasaan budaya pendukung yang mampu menciptakan atmosfer pertandingan aman dan nyaman.
Belajar dari San Siro untuk Masa Depan JIS
Selain menyoroti rivalitas Persija-Persib, Rano juga mengungkap rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempelajari sistem pengelolaan stadion kelas dunia, khususnya San Siro di Milan, Italia.
Menurutnya, pengelolaan stadion modern saat ini tidak lagi hanya bergantung pada pendapatan dari pertandingan sepak bola. Berbagai kegiatan non-olahraga justru mampu menghasilkan pemasukan yang lebih besar.
Ia menjelaskan bahwa konsep bisnis stadion modern menggabungkan olahraga, pertunjukan musik, seni, hingga berbagai acara komersial yang mampu mengoptimalkan penggunaan fasilitas sepanjang tahun.
“San Siro juga akan mengajarkan kita karena hampir rata-rata secara in business, event kesenian, art ekonomi atau bisnis performance music itu memberikan income yang jauh lebih besar daripada liga,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan keinginan Pemprov DKI Jakarta untuk memaksimalkan potensi Jakarta International Stadium (JIS) sebagai pusat kegiatan multifungsi yang mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi daerah.
JIS Didorong Terapkan Sistem Reservasi Jangka Panjang
Salah satu aspek yang dinilai penting dari pengelolaan San Siro adalah kepastian jadwal penggunaan stadion. Rano menilai sistem perencanaan yang matang menjadi kunci agar tidak terjadi benturan agenda antara pertandingan olahraga dan acara lainnya.
Ia mencontohkan bagaimana stadion legendaris di Italia itu menerapkan sistem pemesanan jauh hari sebelum acara berlangsung.
“Kalau kalian mau pakai San Siro menjadi tempat untuk show apa pun, dua tahun sebelumnya mesti di-booking,” katanya.
Dengan pola tersebut, seluruh agenda dapat tersusun secara jelas dan terencana sehingga tidak menimbulkan perubahan lokasi secara mendadak.
Menurut Rano, pola manajemen seperti itu perlu menjadi referensi dalam pengelolaan JIS ke depan. Dengan jadwal yang tertata, penyelenggara acara maupun klub pengguna stadion dapat memiliki kepastian lebih baik.
“Jadi enggak bisa seperti di sini, JIS penuh pindah GBK, GBK penuh pindah ke mana, gak bisa lagi. Itulah manajemen yang benar, itu yang harus kita belajar mungkin,” pungkasnya.
Dorong Profesionalisme dari Tribun hingga Manajemen Stadion
Pernyataan Rano Karno menunjukkan dua agenda besar yang ingin didorong Pemprov DKI Jakarta dalam pengembangan sepak bola nasional. Pertama, membangun budaya rivalitas yang sehat antara Persija dan Persib sebagai ikon kompetisi Indonesia. Kedua, meningkatkan profesionalisme pengelolaan stadion melalui penerapan standar internasional di JIS.
Di satu sisi, rivalitas Persija-Persib diharapkan tetap menjadi magnet yang menghidupkan kompetisi. Namun di sisi lain, semangat persaingan tersebut harus dibingkai dalam nilai sportivitas dan saling menghormati.
Sementara dari aspek infrastruktur, pengelolaan stadion yang lebih profesional diyakini dapat menjadikan JIS bukan hanya markas pertandingan sepak bola, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi kreatif dan hiburan berskala internasional. Dengan demikian, modernisasi sepak bola Indonesia tidak hanya terjadi di atas lapangan, tetapi juga di tribun suporter dan tata kelola fasilitas olahraga.