NEW YORK, AS – Keputusan Wali Kota New York, Zohran Mamdani, untuk tidak menghadiri Parade Israel 2026 memicu perdebatan politik dan menjadi sorotan publik di Amerika Serikat. Langkah tersebut tercatat sebagai yang pertama dalam sejarah penyelenggaraan parade tahunan Israel di New York yang telah berlangsung sejak 1964.
Selama lebih dari enam dekade, para wali kota New York secara konsisten menghadiri acara yang menjadi simbol kedekatan komunitas Yahudi dengan negara Israel itu. Namun tradisi tersebut terputus ketika Mamdani, yang dikenal sebagai wali kota Muslim pertama dalam sejarah kota terbesar di AS tersebut, memilih tidak hadir.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Mamdani menegaskan sikapnya sejalan dengan komitmen politik yang ia sampaikan sejak masa kampanye, yakni menolak dukungan terhadap kebijakan Israel yang menurutnya berkaitan dengan pendudukan wilayah Palestina.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah kota tetap memberikan izin penyelenggaraan parade dan menjamin keamanan seluruh peserta yang terlibat.
Janji Kampanye yang Kini Ditepati
Penolakan menghadiri parade Israel menjadi salah satu sikap politik paling tegas yang ditunjukkan Mamdani sejak menjabat sebagai wali kota. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan langkah mendadak, melainkan bagian dari komitmen yang telah disampaikan kepada publik sebelum terpilih.
“Saya mengatakan saat kampanye bahwa saya tidak akan menghadiri parade tersebut. Dan saya telah menyatakan pandangan saya tentang pemerintah Israel dengan sangat jelas,” kata Mamdani.
Meski memilih absen, ia menegaskan bahwa tanggung jawabnya sebagai kepala pemerintahan kota tetap berada di atas segala perbedaan pandangan politik.
“Dan saya juga mengatakan dalam kampanye yang sama bahwa saya akan memiliki tanggung jawab sebagai walikota kota ini untuk memastikan keselamatan dan keamanan setiap warga New York,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa sikap politiknya terhadap pemerintah Israel tidak akan memengaruhi pelayanan publik maupun perlindungan terhadap seluruh warga kota.
Parade Tetap Berjalan dengan Pengamanan Ketat
Pemerintah Kota New York tetap memberikan dukungan administratif dan keamanan bagi pelaksanaan Parade Israel 2026. Aparat keamanan diterjunkan untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib.
Parade Israel dikenal sebagai salah satu perayaan terbesar komunitas Yahudi di Amerika Serikat. Setiap tahun, puluhan ribu peserta memadati jalan-jalan utama Manhattan sambil membawa bendera Israel dan mengikuti berbagai atraksi budaya.
Sejak pertama kali digelar pada 1964, acara ini telah berkembang menjadi simbol solidaritas komunitas Yahudi sekaligus panggung politik yang menunjukkan dukungan terhadap Israel di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
Karena itu, absennya wali kota New York pada tahun ini dinilai memiliki makna simbolis yang jauh lebih besar dibanding sekadar ketidakhadiran dalam sebuah acara seremonial.
Tegaskan Hormati Komunitas Yahudi
Di tengah polemik yang berkembang, Mamdani berupaya menegaskan bahwa keputusannya tidak ditujukan kepada komunitas Yahudi secara keseluruhan.
Ia memastikan tetap menghormati berbagai tradisi dan perayaan keagamaan masyarakat Yahudi di New York, yang selama ini menjadi salah satu kelompok masyarakat terbesar dan paling berpengaruh di kota tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara sikap politiknya terhadap pemerintah Israel dan komitmennya untuk menjadi pemimpin bagi seluruh warga New York tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Pemerintah Israel Bereaksi Keras
Sikap Mamdani ternyata memicu respons dari pejabat Israel. Pemerintah Israel menilai keputusan wali kota New York tersebut sebagai sinyal politik yang mengkhawatirkan di tengah meningkatnya ketegangan terkait isu antisemitisme di Amerika Serikat.
Konsul Jenderal Israel di New York, Ofir Akunis, secara terbuka mengajak komunitas Yahudi dan warga Israel di kota tersebut untuk menunjukkan solidaritas dengan menghadiri parade tahun ini.
Menurut Akunis, momentum parade justru semakin penting ketika sentimen anti-Israel dan antisemitisme disebut mengalami peningkatan.
“Tahun ini, ketika antisemitisme dan kebencian terhadap Israel berada pada titik tertinggi sepanjang masa — yang dipicu oleh para pemimpin di NYC dan di seluruh dunia — kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa bendera biru dan putih tidak akan pernah diturunkan!” tegas Akunis.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran Israel terhadap berkembangnya kritik politik terhadap negara itu, terutama setelah konflik berkepanjangan di Gaza dan meningkatnya gelombang demonstrasi pro-Palestina di berbagai kota besar dunia.
Parade 2026 Angkat Tema Zionisme dan Identitas Amerika
Penyelenggara Parade Israel tahun ini mengusung tema “Proud Americans, Proud Zionists” atau “Warga Amerika yang Bangga, Warga Zionis yang Bangga.”
Tema tersebut dianggap sebagai pesan politik yang kuat di tengah meningkatnya perdebatan mengenai posisi Israel dalam politik domestik Amerika Serikat.
Di satu sisi, komunitas pro-Israel berupaya menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel tetap menjadi bagian dari identitas sebagian warga Amerika. Di sisi lain, muncul kelompok politik progresif yang semakin vokal mengkritik kebijakan pemerintah Israel terhadap Palestina.
Keputusan Mamdani untuk tidak menghadiri parade akhirnya menjadi simbol benturan dua arus politik tersebut.
Ujian Politik bagi Zohran Mamdani
Bagi Mamdani, kontroversi ini menjadi salah satu ujian politik terbesar sejak menduduki Balai Kota New York. Sebagai wali kota Muslim pertama di kota tersebut, setiap sikapnya terhadap isu Israel-Palestina dipastikan akan mendapat sorotan tajam dari berbagai kelompok.
Pendukungnya menilai langkah itu menunjukkan konsistensi terhadap janji kampanye dan keberanian mempertahankan prinsip politik. Namun para pengkritik melihat keputusan tersebut berpotensi memperdalam polarisasi di tengah masyarakat New York yang sangat beragam.
Terlepas dari perdebatan yang muncul, Parade Israel tetap akan berlangsung seperti biasa dengan pengamanan penuh dari pemerintah kota. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah 61 tahun penyelenggaraan, acara itu digelar tanpa kehadiran wali kota New York, sebuah momen yang menandai babak baru dalam dinamika politik kota metropolitan tersebut.