Gelaran akbar Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS) sudah berada di ujung tanduk dan tinggal menyisakan laga final. Namun, alih-alih memicu ledakan pariwisata, turnamen sepak bola terbesar di jagat raya ini nyatanya belum mampu mendongkrak jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Negeri Paman Sam secara signifikan.
Data terbaru dari National Travel & Tourism Office (NTTO) di bawah Departemen Perdagangan AS menunjukkan potret yang cukup mengejutkan. Sepanjang Juni 2026—saat fase grup sedang panas-panasnya bergulir—kunjungan internasional ke AS hanya merangkak naik 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ironisnya, mengutip laporan Karryon (16/7/2026), penurunan kunjungan justru disumbang oleh dua pasar utama sepak bola dunia. Wisatawan asal Eropa merosot 1,2%, sedangkan pasar Asia justru anjlok hingga 5,6%. Kenaikan tipis hanya terselamatkan oleh pasar yang lebih kecil, seperti Afrika (naik 13,8%) dan Amerika Selatan (naik 4,7%).
Angka Fantastis FIFA Disebut Cuma “Gimik PR”
Padahal sebelumnya, FIFA dengan percaya diri memproyeksikan bahwa Piala Dunia 2026 bakal menyuntikkan dana segar hingga USD 30,5 miliar (sekitar Rp 549 triliun) bagi perekonomian AS. Angka ini dihitung berdasarkan asumsi bahwa turis asing akan berbondong-bondong datang dan berbelanja lebih royal daripada penonton domestik.
Namun, Profesor Emeritus Ekonomi dari Smith College, Andrew Zimbalist, langsung mematahkan prediksi tersebut. Ia menilai proyeksi FIFA terlampau muluk dan tidak realistis.
“FIFA sedang memainkan permainan hubungan masyarakat (PR game) dengan semua angka-angka itu. Secara logika, dampaknya tidak pernah masuk akal bisa mencapai USD 30,5 miliar bagi ekonomi Amerika Serikat,” kritik Zimbalist tajam.
Kelesuan ini juga terkonfirmasi di sektor akomodasi. American Hotel & Lodging Association (AHLA) melaporkan bahwa meskipun hotel-hotel di kota tuan rumah sudah kompak menaikkan tarif kamar selama turnamen, tingkat hunian (occupancy rate) justru adem ayem tanpa ada lonjakan berarti.
Menurut Zimbalist, sepinya turis asing ini tidak lepas dari faktor geopolitik dan kebijakan ekonomi dalam negeri AS sendiri. “Ada penolakan yang meluas di tingkat internasional terhadap kebijakan tarif dan hubungan luar negeri Presiden Donald Trump. Ini bukan pernyataan politik, melainkan realitas di lapangan,” tambahnya.
Kota Tuan Rumah Boncos, FIFA yang Serok Untung
Analisis dari North Carolina State University mengungkapkan bahwa 16 kota tuan rumah di Amerika Utara telah jorjoran menginvestasikan dana sekitar USD 100 juta hingga USD 200 juta (Rp 1,80–3,60 triliun) per kota demi membenahi infrastruktur, transportasi, dan keamanan. Beberapa negara bagian bahkan rela memberikan insentif keringanan pajak.
Nahasnya, ketika kota-kota besar seperti New York, Miami, dan Atlanta masih bisa mencatat kinerja pariwisata yang positif, sebagian besar kota tuan rumah lainnya justru gigit jari karena sepi peminat.
Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Michael Edwards, menyebut sistem kerja sama ini pada akhirnya hanya menguntungkan satu pihak.
“Model bisnis yang diterapkan FIFA selalu sama: FIFA yang menyerap seluruh pendapatan bersih, sementara kota-kota tuan rumah yang harus menanggung seluruh biaya operasional dan risikonya,” pungkas Edwards.