TEHERAN, IRAN — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum Washington memenuhi sejumlah syarat yang diajukan pemerintah Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah berlanjutnya eskalasi militer kedua negara meski sebelumnya telah disepakati kerangka kerja perdamaian.
Sikap terbaru Iran menandai babak baru dalam sengketa di jalur pelayaran paling strategis di dunia itu. Penutupan Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu arus perdagangan global, terutama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akrami-Nia, menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada kesediaan Amerika Serikat untuk memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan Teheran.
Mengutip laporan Mehr News Agency pada Rabu (15/7/2026), Akrami-Nia menegaskan bahwa kendali atas selat tersebut harus berada di bawah kewenangan Iran sebelum lalu lintas pelayaran dapat kembali dinormalisasi.
“Kendali atas Selat Hormuz harus berada di bawah wewenang Iran sebelum jalur tersebut dapat dibuka kembali,” kata Akrami-Nia.
Ia juga menuntut Washington mematuhi poin-poin dalam kerangka kesepakatan perdamaian yang disepakati bulan lalu, menghentikan tindakan yang dinilai sebagai permusuhan terhadap Iran, serta menerima aturan pelayaran yang ditetapkan Teheran di kawasan tersebut.
Menurutnya, tekanan militer yang terus dilakukan Amerika Serikat tidak akan mengubah sikap Iran.
“Operasi militer AS yang berkelanjutan tidak akan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz,” ujarnya.
Iran Tegaskan Operasi Militer Masih Berlanjut
Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memastikan operasi militernya terhadap kepentingan Amerika Serikat masih terus berlangsung.
Dalam pernyataan yang disampaikan Kamis (16/7/2026), juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan fokus utama operasi saat ini adalah menghancurkan infrastruktur ofensif milik AS di kawasan Timur Tengah.
Ia juga mengingatkan bahwa operasi berikutnya akan dilaksanakan setelah target pada fase pertama dinilai tercapai.
“Operasi kami saat ini difokuskan pada penghancuran infrastruktur ofensif Amerika Serikat di kawasan. Tahapan berikutnya akan dimulai setelah fase ini selesai,” tulis Mohebbi melalui akun resminya di platform X.
Mohebbi juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak boleh menganggap konflik akan berkembang sesuai skenario yang diinginkan Washington.
“Musuh tidak boleh berasumsi bahwa mereka dapat mempertahankan jalannya pertempuran saat ini atau mengubah konflik menjadi perang gesekan,” tegasnya.
Gelombang Serangan Kembali Terjadi
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Iran.
Pada saat hampir bersamaan, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pelaksanaan serangan tambahan terhadap sejumlah sasaran militer Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut diarahkan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang dianggap berpotensi mengancam kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Militer Amerika menyebut langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Kesepakatan Perdamaian Belum Mampu Redam Konflik
Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa kerangka kerja perdamaian yang sebelumnya dimediasi Pakistan belum mampu menghentikan aksi saling serang antara kedua negara.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target di Iran. Sebagai balasan, Teheran mengklaim telah menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan.
Situasi tersebut membuat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz masih dipenuhi ketidakpastian. Hingga kini Iran tetap bersikukuh bahwa jalur pelayaran strategis tersebut baru akan dibuka apabila Amerika Serikat memenuhi seluruh syarat yang diajukan Teheran sesuai kerangka perdamaian yang telah disepakati sebelumnya.
Perkembangan terbaru ini menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan energi global. Setiap gangguan terhadap akses di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak dan gas internasional serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.