Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang dalam perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada April 2026 kembali mencetak surplus sebesar USD 89,1 juta.
Kemenangan tipis namun krusial ini membuat Indonesia sukses mempertahankan tren positif dengan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut (6 tahun penuh) sejak Mei 2020. Jika diakumulasikan sepanjang periode Januari hingga April 2026, total kantong surplus RI telah menembus angka fantastis, yakni USD 5,64 miliar.
Sawit dan Nikel Jadi Mesin Penggerak Utama Ekspor
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa surplus kali ini diraih setelah nilai ekspor RI yang menyentuh USD 25,32 miliar berhasil mengungguli nilai impor sebesar USD 25,21 miliar.
Performa ekspor nonmigas menjadi bintang utama dengan pertumbuhan ugal-ugalan mencapai 23,36% secara tahunan (year-on-year), yang didorong oleh tiga komoditas andalan:
-
Lemak & Minyak Hewani/Nabati (Termasuk CPO): Tumbuh melesat 66,59%. Kenaikan ini ditopang oleh meroketnya harga Crude Palm Oil (CPO) dunia sebesar 15,45% ke level USD 1.148 per metrik ton.
-
Nikel dan Barang Turunannya: Melonjak tajam hingga 75,52%.
-
Mesin & Peralatan Mekanis: Ikut terkerek naik sebesar 57,90%.
Melonjaknya permintaan ini juga dipicu oleh ekspansi sektor manufaktur di negara-negara mitra dagang utama RI. Purchasing Managers’ Index (PMI) dari Jepang (55,1), India (54,7), Amerika Serikat (54,5), dan Tiongkok (52,2) kompak berada di zona ekspansif, yang membuat mereka gencar memborong bahan baku dari Indonesia.
Geliat Impor: Sinyal Positif Industri Manufaktur Dalam Negeri
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar USD 25,21 milar (tumbuh 22,49% yoy). Secara rinci, impor migas menyumbang USD 4,60 miliar (naik tajam 82,52%) dan impor nonmigas senilai USD 20,61 miliar (naik 14,11%).
Meskipun angka impor melonjak tinggi, para pelaku ekonomi tidak perlu cemas. BPS mencatat bahwa mayoritas komoditas yang didatangkan dari luar negeri bukanlah barang konsumsi matang, melainkan bahan baku dan barang penolong yang nilainya mencapai USD 18,65 miiar (tumbuh 24,56%).
Tingginya angka impor bahan baku ini justru menjadi indikator positif yang menandakan bahwa mesin-mesin pabrik dan industri manufaktur di dalam negeri sedang bergeliat ekspansif untuk menggenjot produksi nasional.