JAKARTA — Penguatan regulasi digital menjadi faktor krusial dalam menghadapi era Society 5.0, khususnya dalam menyiapkan Generasi Z sebagai motor penggerak pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Guru Besar Universitas Kristen Indonesia (UKI), Aarce Tehupeiory, menegaskan bahwa regulasi memiliki peran strategis dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap produktif dan aman. “Regulasi bukan untuk membatasi, tetapi untuk mengarahkan agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” ujarnya kepada wartawan.
Aarce menuturkan konsep Society 5.0 sendiri merupakan model masyarakat berbasis manusia yang memanfaatkan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, hingga robotika untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dalam kerangka ini, Generasi Z—yang lahir antara 1997 hingga 2012—dipandang sebagai kelompok kunci karena pada 2045 akan berada di usia produktif dan berpotensi menjadi pemimpin di berbagai sektor.
Regulasi Jadi Fondasi Pemanfaatan Teknologi
Penguatan regulasi dinilai penting untuk memastikan teknologi dimanfaatkan secara positif dan tidak menimbulkan dampak negatif. Sejumlah payung hukum yang relevan antara lain Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta Undang-Undang Hak Cipta.
Aarce menjelaskan bahwa regulasi tersebut berfungsi melindungi hak masyarakat, menjaga keamanan data pribadi, mengatur etika di ruang digital, serta melindungi karya intelektual.
“Tanpa regulasi yang kuat, pemanfaatan teknologi bisa melenceng dan berpotensi merugikan masyarakat,” ungkapnya.
Integrasi Digital dan Fisik Makin Tak Terpisahkan
Dalam era Society 5.0, integrasi antara dunia fisik dan digital menjadi solusi untuk berbagai persoalan sosial. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk memperkuat kapasitas dan kesejahteraan.
Transformasi ini tercermin dalam berbagai sektor, mulai dari smart city, e-government, pendidikan digital, hingga ekonomi digital yang semakin berkembang pesat.
Generasi Z dinilai memiliki keunggulan dalam menghadapi perubahan ini. Mereka dikenal adaptif terhadap teknologi, kreatif, inovatif, serta memiliki konektivitas global yang tinggi.
SDM Unggul Jadi Kunci Indonesia Emas 2045
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini mencakup penguasaan teknologi, peningkatan inovasi, serta penguatan karakter.
Pemerintah bersama pemangku kepentingan didorong untuk memperkuat regulasi di berbagai bidang, termasuk perlindungan data, literasi digital, serta penggunaan AI yang etis.
Di sektor pendidikan, penyesuaian kurikulum juga dinilai mendesak, terutama dalam pengenalan keterampilan masa depan seperti coding, data science, dan keamanan siber.
Manfaat dan Risiko Regulasi Digital
Penerapan regulasi digital memberikan sejumlah manfaat, di antaranya meningkatkan perlindungan data pribadi, memperkuat keamanan transaksi, serta menekan angka kejahatan siber.
Namun, di sisi lain, regulasi juga memiliki potensi risiko jika tidak diterapkan secara proporsional. Pembatasan yang berlebihan dapat menghambat kreativitas, memperlambat inovasi, hingga membatasi kebebasan berekspresi.
Tantangan Generasi Z di Era Digital
Generasi Z menghadapi berbagai tantangan, baik dari faktor internal maupun eksternal. Dari sisi internal, tantangan meliputi kecanduan media sosial dan rendahnya literasi digital. Sementara dari sisi eksternal, kesenjangan akses teknologi dan ancaman kejahatan siber masih menjadi persoalan.
Sebagai solusi, Aarce menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan literasi hukum, serta pemahaman mendalam terhadap teknologi seperti AI.
“Generasi muda harus dibekali tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga etika dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi,” tegasnya.
Peran Strategis Gen Z di Masa Depan
Ke depan, Generasi Z diharapkan mampu mengambil peran sebagai inovator teknologi, wirausaha digital, talenta di bidang AI dan data, hingga pemimpin masa depan.
Untuk mencapai itu, mereka perlu menguasai berbagai kompetensi, baik hard skills seperti coding, data science, dan keamanan siber, maupun soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.
Keseimbangan Regulasi dan Inovasi
Aarce menegaskan, keseimbangan antara regulasi dan inovasi menjadi kunci dalam menjaga kedaulatan digital nasional di era Society 5.0.
“Regulasi harus mampu melindungi tanpa menghambat inovasi. Di situlah pentingnya kebijakan yang adaptif dan berimbang,” ujarnya.
Dengan fondasi regulasi yang kuat dan kesiapan Generasi Z, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 secara berkelanjutan dan inklusif.
