JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin (6/7/2026) menunjukkan perubahan arah setelah sempat mengawali transaksi di zona hijau sebelum akhirnya menutup sesi pertama dengan pelemahan tipis.
Optimisme investor terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang menopang sentimen pasar global.
Saat pembukaan perdagangan, IHSG menguat 17,50 poin atau 0,30 persen hingga mencapai level 5.893,28.
Indeks saham unggulan LQ45 juga memulai perdagangan dengan kenaikan 1,30 poin atau 0,22 persen ke posisi 583,08.
Memasuki akhir sesi pertama, tekanan jual membuat IHSG berbalik melemah 10,81 poin atau 0,18 persen ke level 5.684,97.
Indeks LQ45 turut terkoreksi 3,21 poin atau 0,55 persen hingga berada di posisi 578,58.
Pelaku pasar masih mencermati berbagai indikator ekonomi dalam dan luar negeri yang memengaruhi arah investasi jangka pendek.
Di pasar domestik, perhatian investor tertuju pada sejumlah data ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung penguatan indeks.
“Sentimen domestik masih dibayangi defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020, kontraksi aktivitas manufaktur, serta peringatan Fitch Ratings terkait penurunan cadangan devisa,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Di sisi eksternal, kondisi pasar global justru memberikan ruang optimisme bagi investor.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan memperbesar peluang bank sentral AS mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar.
“Pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan meningkatkan posisi pada aset berisiko,” ujar Liza.
Investor kini menunggu sejumlah data ekonomi penting yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Fokus pasar tertuju pada rilis ISM Services PMI Amerika Serikat, risalah rapat FOMC The Fed, serta perkembangan inflasi di China.
Selain indikator ekonomi, negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi sektor manufaktur global.
Perkembangan geopolitik turut memberi sentimen positif terhadap pasar energi dunia.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda setelah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali meningkat seiring membaiknya situasi keamanan kawasan.
Ekspor minyak Arab Saudi juga telah pulih hingga sekitar 90 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik.
“Perkembangan tersebut membantu menekan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global,” ujar Liza.
Dari dalam negeri, pemerintah juga memperkuat pengawasan terhadap aktivitas ekonomi digital.
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mulai mengoptimalkan pemanfaatan data transaksi dari berbagai platform perdagangan daring.
Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli menjadi bagian dari sumber data yang digunakan untuk memantau omzet pelaku usaha digital.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepatuhan perpajakan di sektor ekonomi digital yang terus berkembang.
Meski IHSG mengakhiri sesi pertama di zona merah, peluang pemulihan masih terbuka apabila sentimen global tetap kondusif dan data ekonomi berikutnya memberikan kejutan positif bagi pasar.***