JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan memiliki peluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan.
Optimisme ini muncul setelah perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS memicu pelemahan indeks dolar.
Sentimen global menjadi pendorong utama pergerakan mata uang Garuda setelah pernyataan bernada dovish dari Gubernur Federal Reserve mendorong pelaku pasar kembali menilai kemungkinan suku bunga AS tidak lagi naik pada tahun ini.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai perubahan sikap tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik meski tekanan dari faktor domestik masih belum sepenuhnya mereda.
“Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran di Rp17.920-Rp17.970.”
“Dipengaruhi oleh faktor global melemahnya index dollar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish menggiring ekspektasi pasar atas pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini dan harga minyak yang terus turun,” ungkap Rully seperti dikutip dari Antara, Senin.
Meski prospeknya positif, rupiah sempat membuka perdagangan Senin dengan pelemahan sebesar 29 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp17.992 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.
Perubahan ekspektasi pasar dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan nonfarm payroll Juni berada di bawah perkiraan analis.
Data tersebut mengurangi keyakinan investor bahwa bank sentral AS akan segera menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Mengutip Anadolu, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebelumnya diperkirakan mencapai 82 persen.
Namun setelah data tenaga kerja diumumkan, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen seiring meningkatnya optimisme terhadap perkembangan geopolitik.
Menurut Rully, kehati-hatian The Fed muncul karena mempertimbangkan perkembangan inflasi Amerika Serikat setelah lonjakan harga minyak pada semester pertama.
Bank sentral AS juga memperkirakan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi semester kedua masih perlu dicermati sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat justru dinilai menjadi perhatian yang lebih besar bagi The Fed karena berpotensi memberi dampak luas terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Sementara itu, dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi masih menjadi tantangan bagi penguatan rupiah dalam jangka pendek.
“Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa,” ungkap dia.
Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter global sekaligus kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebagai penentu arah pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya.
Pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (6/7/2026) rupiah terdepresiasi 0,17 persen ke level Rp17.994 per dolar AS.***