JAKARTA – Setelah 24 tahun, rivalitas klasik Inggris-Argentina kembali hidup di panggung Piala Dunia. Pertemuan keduanya pada semifinal di Atlanta menghadirkan duel bersejarah antara Harry Kane dan Lionel Messi.
Sejarah panjang politik dan sepak bola menjadi latar panas laga ini. Dari gol kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada 1986 hingga kartu merah David Beckham karena menendang Diego Simeone pada 1998, duel Inggris–Argentina kerap sarat drama. Sengketa kedaulatan atas Kepulauan Falkland juga menambah dimensi rivalitas.
Messi, yang telah meraih hampir semua trofi bergengsi, baru kali ini menghadapi Inggris. “Saya pernah bermain melawan semua tim kecuali Inggris, dan itu istimewa karena mereka adalah negara besar, kekuatan besar, dan selalu menyenangkan bermain melawan tim seperti itu, terutama di semifinal Piala Dunia,” kata Messi, dilansir The Daily Star, Rabu (15/7/2026).
Dengan delapan gol dalam enam laga, Messi tengah menikmati kampanye Piala Dunia yang gemilang. Argentina berpeluang menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar sejak Brasil pada 1962. Jika lolos, ini akan menjadi final ketiga mereka dalam empat edisi terakhir. “Mencapai semifinal lagi bukanlah hal yang biasa, jadi ini adalah sesuatu yang harus benar-benar kita nikmati,” ujar Messi.
Inggris, yang terakhir kali juara pada 1966, kini dipimpin duet Harry Kane dan Jude Bellingham. Kiper Jordan Pickford menegaskan timnya siap menghadapi tekanan. “Anda telah melihat sepanjang turnamen ini keinginan kami untuk memenangkan perebutan bola. Kami tidak terlibat dalam perkelahian atau hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Skuad asuhan Thomas Tuchel akan tampil pada semifinal keempat dari lima turnamen besar terakhir, berusaha menulis sejarah dengan trofi pertama di luar tanah sendiri.