MANAMA, BAHRAIN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran melancarkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Bahrain. Aksi tersebut diklaim sebagai balasan atas serangan Washington terhadap wilayah Iran dan menandai eskalasi terbaru di kawasan Teluk yang kembali berada di ambang konflik terbuka.
Militer Iran mengumumkan telah menyerang Pangkalan Udara Al-Sakhir di Bahrain menggunakan drone kamikaze Arash dalam fase ke-11 operasi militer bertajuk Saegheh. Pangkalan tersebut diketahui menjadi lokasi penempatan sejumlah aset militer Amerika Serikat, termasuk helikopter tempur dan pesawat patroli maritim Boeing P-8 Poseidon.
Serangan ini menjadi perkembangan terbaru dalam memanasnya hubungan Teheran dan Washington yang dalam beberapa hari terakhir kembali diwarnai aksi saling serang di kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resminya, militer Iran menegaskan operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan Amerika Serikat yang disebut menyasar fasilitas sipil dan warga sipil di Iran.
“Tentara Iran menargetkan Pangkalan Udara Al-Sakhir menggunakan drone kamikaze Arash sebagai respons terhadap serangan AS terhadap infrastruktur sipil dan orang-orang tak berdosa di Iran,” demikian pernyataan militer Iran.
Selain mengklaim berhasil melancarkan serangan, Teheran juga mengirimkan pesan keras kepada Washington. Iran menegaskan tidak akan ragu memberikan balasan jika kembali mendapat serangan dari Amerika Serikat maupun sekutunya.
Militer Iran menyatakan akan memberikan respons yang “cepat dan tegas” terhadap setiap tindakan permusuhan berikutnya.
Mereka juga memperingatkan bahwa setiap upaya meremehkan kemampuan militer Iran, termasuk kekuatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), akan menimbulkan konsekuensi serius.
“Setiap kesalahan perhitungan terhadap tekad Iran maupun kemampuan angkatan bersenjata dan IRGC akan membawa biaya yang besar,” tegas pernyataan tersebut.
Sirene Serangan Udara Berbunyi di Bahrain
Tak lama setelah serangan dilaporkan, sirene peringatan serangan udara terdengar di berbagai wilayah Bahrain. Situasi itu mendorong pemerintah setempat mengeluarkan imbauan darurat kepada masyarakat.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta seluruh warga dan penduduk tetap tenang serta segera mencari lokasi perlindungan terdekat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan lanjutan.
Peringatan tersebut menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan otoritas Bahrain mengingat negara itu menjadi salah satu lokasi strategis penempatan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai besarnya kerusakan di Pangkalan Udara Al-Sakhir maupun kemungkinan adanya korban akibat serangan drone tersebut.
Konflik Iran-AS Kembali Memanas
Serangan ke Bahrain menjadi bagian dari rangkaian eskalasi yang terus berkembang sejak Februari 2026. Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap sejumlah target di Iran.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah wilayah yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Meski kedua negara sempat menunjukkan tanda-tanda meredakan konflik setelah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada bulan lalu, situasi di lapangan justru kembali memburuk.
Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan menjadi dasar menuju penghentian konflik dan pembentukan perdamaian jangka panjang antara kedua negara.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, ketegangan kembali meningkat, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat di wilayah tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas keamanan regional serta potensi terganggunya lalu lintas pelayaran internasional.
Dengan serangan drone ke pangkalan militer AS di Bahrain, konflik kedua negara kini memasuki babak baru yang berpotensi memperluas ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah apabila tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.