JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Iran mengklaim telah menargetkan radar dan instalasi pertahanan udara Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait pada Selasa (21/7/2026), sembari memperingatkan serangan lebih dahsyat akan menyusul.
Ancaman itu beriringan dengan pernyataan pemberontak Houthi Yaman yang bertekad memblokir pelayaran Saudi di Laut Merah.
Serangan Iran terjadi beberapa jam setelah Amerika melancarkan serangan udara ke-10 berturut-turut, menghantam pusat komando militer, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara. Komando Pusat AS menyebut operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran menargetkan kapal komersial di Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran menegaskan, “Musuh harus bersiap menghadapi gelombang serangan pesawat tak berawak dan rudal yang lebih menentukan dan dahsyat,” dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita IRNA. Belum ada konfirmasi independen mengenai kerusakan fasilitas AS, dilansir Hurriyet Daily News.
Eskalasi ini menyusul tewasnya tiga anggota militer AS dalam beberapa hari terakhir. Presiden Donald Trump memperingatkan Iran akan membayar “berkali-kali lipat” atas setiap tentara Amerika yang gugur. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut konflik telah berkembang menjadi “perang skala penuh.”
Di Selat Hormuz, Garda Revolusi mengaku menghentikan dua kapal tanker minyak setelah ledakan memicu kebakaran besar. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan serangan proyektil terhadap kapal tanker di lepas pantai Oman.
Situasi kian genting setelah Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap pelayaran Saudi di Bab el-Mandeb, jalur vital penghubung Laut Merah dan Teluk Aden. Arab Saudi mengecam ancaman itu dan menegaskan militernya akan menjaga jalur perdagangan tetap terbuka.
Departemen Luar Negeri AS memperbarui peringatan global bagi warganya di Timur Tengah, sementara Iran masih membuka jalur komunikasi dengan Washington melalui mediator. Pakistan pun melanjutkan upaya mediasi lewat pertemuan pejabat tinggi di Islamabad.