JAKARTA – Data terbaru dari Layanan Informasi Kebakaran Hutan Eropa (Effis) menunjukkan kondisi cuaca yang memicu kebakaran di Uni Eropa tahun ini mencapai tingkat keparahan tertinggi untuk periode akhir Juli dalam dua dekade terakhir. Polusi karbon, suhu panas, angin kencang, dan udara kering membuat intensitas cuaca kebakaran 43% lebih parah dibanding rata-rata historis.
Dilansir The Guardian, Kamis (30/7/2026), hingga saat ini, 435.000 hektar lahan telah terbakar akibat 1.400 kebakaran, tiga kali lipat dari rata-rata tahunan. Di Yunani, tiga petugas pemadam tewas pada Selasa. Sementara di Prancis dan Spanyol, tim pemadam kebakaran berjuang mengendalikan api yang mengancam kota-kota besar.
Di Prancis, kebakaran hutan pinus dekat Bordeaux memicu badai petir langka. Total 91.000 hektar sudah terbakar, memecahkan rekor tahunan negara itu meski musim panas masih tersisa. Otoritas Gironde menyebut situasi mulai terkendali, dengan 84.000 warga diizinkan kembali ke rumah.
Spanyol mencatat 207.000 hektar lahan terbakar, hampir lima kali lipat rata-rata tahunan. Meski situasi di Madrid dinyatakan “stabil,” ribuan warga masih belum bisa kembali. Perdana Menteri Pedro Sánchez mengumumkan berakhirnya status darurat nasional di Ávila dan Madrid, namun kebakaran baru dekat perbatasan Portugal memaksa evakuasi 600 orang.
Secara keseluruhan, kebakaran di Prancis dan Spanyol telah memaksa lebih dari 300.000 orang mengungsi. Uni Eropa mengirim bantuan berupa petugas, kendaraan, dan pesawat penjatuh air. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen memuji “keberanian dan komitmen” para pemadam kebakaran.
Namun, pusat krisis Uni Eropa memperingatkan beberapa pekan ke depan akan semakin sulit, dengan kebakaran yang kian memburuk di Italia dan Yunani. Pada Rabu, dua petugas pemadam tewas di Kreta dan satu di daratan utama Yunani saat berusaha memadamkan api.



