JAKARTA – Wakil Presiden ke-13 RI sekaligus Mustasyar PBNU, K.H. Ma’ruf Amin, meluncurkan buku terbarunya berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh yang disebut-sebut bakal maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.
“Selain Ketua Umum, juga hadir banyak calon ketua umum. Ada yang sudah diumumkan, ada yang sudah deklarasi, dan ada yang belum deklarasi. Saya ingin menyampaikan terima kasih,” ujar Kiai Ma’ruf dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Nama-nama yang hadir antara lain Wakil Ketua Umum MUI, K.H. Marsudi Syuhud, Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama, K.H. Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur, K.H. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Ponpes API Tegalrejo, K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, K.H. Imam Jazuli.
Dalam bukunya, Kiai Ma’ruf menegaskan NU memiliki tiga pilar utama: fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan). Ia menyoroti praktik keberagamaan yang sering hanya dijalankan sebagai tradisi tanpa pemahaman mendalam mengenai arah perjuangan organisasi.
“Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan),” kata dia.
Ia menekankan pentingnya khittah NU sebagai garis perjuangan yang diwariskan para pendiri, dengan tiga fungsi utama: himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan). Fungsi tersebut dijalankan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, dan ekonomi.
Senada dengan itu, K.H. Marsudi Syuhud menilai karya terbaru Kiai Ma’ruf sebagai momentum penting bagi NU menyongsong abad kedua.
“Yang terpenting dalam hidup itu harus mempunyai legacy, atau sebutannya para kiai adalah amal saleh. Amal saleh itu jika ditinggalkan, walaupun kita sudah meninggal, masih akan terus diingat dan memberikan manfaat,” ujar Kiai Marsudi.
Ia menambahkan, gagasan Kiai Ma’ruf terbukti mampu melewati proses panjang hingga menjadi gerakan nyata. “(pembuat gagasan) itu akan naik tingkatannya. Setelah jadi pikiran dan kalimat-kalimatnya Kiai Ma’ruf, dipikirkan oleh banyak orang. Orang lama-lama akan fokus, lalu menjadi passion,” katanya.
Marsudi menegaskan, gagasan yang dihayati bersama akan membentuk perilaku pergerakan yang melahirkan hasil nyata. Menurutnya, Kiai Ma’ruf adalah teladan seorang ulama pemikir yang pemikirannya membuahkan hasil konkret bagi umat dan bangsa.


