Di balik megahnya armada militer Amerika Serikat, sebuah krisis kemanusiaan dan psikologis yang kelam bergejolak di dalam kapal induk USS Abraham Lincoln. Penugasan panjang yang tak kunjung usai selama 263 hari memicu pertikaian berdarah antar-tentara yang dilaporkan menewaskan tujuh personel militer.
Insiden mengerikan ini berawal dari penumpukan beban kerja parah dan minimnya jam istirahat bagi sekitar 5.000 awak kapal. Berada di tengah lautan lepas sejak berlayar dari San Diego pada November lalu, para prajurit harus menghadapi kenyataan pahit: mereka tercatat hanya mendapatkan dua hari libur selama kurun waktu sembilan bulan tersebut.
Tekanan mental yang menggunung di area terbatas, bising, serta berisiko tinggi tersebut akhirnya meledak menjadi perkelahian massal sesama awak.
Fasilitas Buruk: Makanan Cuma Setengah Mangkuk, Fasilitas Mandi Berjamur
Kondisi psikologis para prajurit kian diperparah oleh fasilitas dan kebutuhan dasar yang jauh dari kata layak. Pihak keluarga awak kapal yang frustrasi membeberkan bahwa kebutuhan pokok seperti sabun, pasta gigi, hingga deodoran sering kali ludes dari toko kapal tanpa kejelasan stok.
Tak hanya itu, keluarga prajurit juga sempat membagikan foto-foto jatah makanan di kapal yang dinilai sangat minim dan tak memadai. Porsi makan mereka kerap dipangkas hingga hanya menyisakan setengah mangkuk nasi dan dua potong daging. Masalah hygiene pun menjadi ancaman nyata; area kamar mandi yang lembap dan berjamur memicu infeksi jamur pada kulit para prajurit.
“Suami saya terus-menerus bekerja melampaui batas hingga mengalami kelelahan ekstrem (burnout),” keluh salah satu istri prajurit yang mengkhawatirkan keselamatan jiwa dan kesehatan mental suaminya di tengah laut.
Pembelaan Pejabat dan Respons Militer
Menanggapi gelombang protes dari keluarga prajurit, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle sempat menepis laporan mengenai buruknya kondisi di atas kapal.
Sementara itu, Juru Bicaras Armada ke-5 Angkatan Laut AS, Komandan Joseph Hontz, mengonfirmasi bahwa kendala pasokan air bersih memang sempat terjadi beberapa kali, namun diklaim selalu dapat ditangani oleh tim teknis.
Meski demikian, pengakuan dari pejabat tidak serta merta menghentikan keprihatinan publik. Insiden tewasnya tujuh prajurit ini menjadi bukti nyata betapa beratnya krisis kelelahan mental (deployment burnout) yang kini menghantui pasukan militer di garda terdepan.


